Semester 2 Bab 6-Hubungan Antara Makhluk Hidup

BAB 6

Hubungan Antara Makhluk Hidup

 

Standar Kompetensi:

6. Memahami hubungan sesama makhluk hidup dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Kompetensi Dasar:

6.1 Mengidentifikasi beberapa jenis simbiosis dan rantai makanan

6.2 Mendeskripsikan hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya

Indikator:

1. Menjelaskan perbedaan ekosistem dan komunitas

2. Menyebutkan beberapa bentuk hubungan antara makhluk hidup

3. Menjelaskan perbedaan rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan

4. Menyebutkan beberapa contoh konsumen pemakai produsen

 

A. Hubungan Antarmakhluk Hidup

Setiap makhluk hidup bergantung pada makhluk hidup lain. Tak ada satu makhluk hidup pun yang bisa hidup sendiri. Gangguan pada salah satu pihak akan mengganggu jaring-jaring kehidupan yang ada. Hubungan erat yang khas antara dua jenis makhluk hidup yang hidup bersama disebut simbiosis. Ada beberapa jenis simbiosis yang kita pelajari sebagai berikut.

1. Simbiosis Mutualisme

Hubungan dalam simbiosis mutualisme bersifat saling menguntungkan. Contohnya hubungan kupukupu dengan bunga. Kupukupu hinggap pada bunga untuk mencari makanan yang berupa sari madu (nektar). Tumbuhan yang dihinggapi kupu-kupu dibantu proses penyerbukannya. Dengan penyerbukan, tumbuhan dapat berkembang biak. Contoh lain adalah hubungan kerbau dengan burung jalak dan hubungan bakteri dengan tumbuhan kacangkacangan.

[Gambar: Kupu-kupu dan bunga]

2. Simbiosis Komensalisme

[Gambar: Tumbuhan paku dan pohon besar]

Simbiosis komensalisme adalah hubungan yang menguntungkan satu pihak, sedangkan pihak yang lain tidak dirugikan. Contohnya hubungan antara tumbuhan paku dengan pohon besar di hutan. Di hutan berbagai jenis tumbuhan paku dan anggrek hidup menempel di pohon. Tumbuhan ini dapat membuat makanannya sendiri. Tumbuhan paku dan anggrek hanya membutuhkan tempat yang tinggi agar mudah memperoleh sinar matahari. Oleh karena itu tumbuhan paku dan anggrek beruntung karena dapat menempel di batang pohon. Sedangkan pohon yang ditumpanginya tidak mengalami kerugian atau keuntungan. Contoh lain adalah hubungan antara ikan remora dengan ikan hiu.

 

3. Simbiosis Parasitisme

[Gambar: Bunga raflesia dan pohon inangnya]

Simbiosis parasitisme adalah hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak, sedangkan pihak yang lain dirugikan. Pihak yang diuntungkan disebut parasit, sedangkan pihak yang dirugikan disebut inang. Contoh simbiosis parasitismeadalah bunga raflesia yang tumbuh di pohon inangnya. Bunga raflesia mengisap makanan yang dibuat tumbuhan inangnya.Akibatnya, bunga raflesia dapat tumbuh subur, sedangkan tumbuhan inangnya lama-kelamaan akan mati. Contoh lainnya adalah kutu yang tumbuh di tubuh hewan.

 

B. Hubungan Antara Makhluk Hidup dengan Lingkungannya

Pernahkah kamu pergi ke kebun atau sawah atau sungai? Di tempat itu berbagai makhluk hidup bersama dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Tempat terjadinya hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dan lingkungannya disebut ekosistem.

1. Saling Ketergantungan Antara Hewan dan Tumbuhan

Ketika hewan bernapas, ia menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Sedangkan pada saat fotosintesis, tumbuhan menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Peristiwa ini adalah salah satu contoh betapa terdapat hubungan yang erat antara hewan dengan tumbuhan. Tanpa tumbuhan, hewan tak memperoleh oksigen, sebaliknya tanpa hewan tumbuhan tak memperoleh karbondioksida. Hewan dan tumbuhan saling tergantung sehingga saling membutuhkan.

Contoh lain yang menunjukkan hubungan timbal balik antara hewan dan tumbuhan adalah hubungan rumput dengan hewan pemakan rumput seperti sapi dan kambing. Hewan-hewan ini memerlukan rumput sebagai makanannya. Sedangkan rumput memerlukan pupuk untuk pertumbuhannya. Pupuk itu tidak lain diperoleh dari kotoran hewan.

Antara cacing dan tumbuhan juga terjadi saling ketergantungan. Cacing adalah hewan yang hidup di dalam tanah. Makanan cacing berupa daun-daunan yang telah jatuh dan membusuk di permukaan tanah. Dengan menggali liang di dalam tanah, cacing membuat lapisan tanah bercampur aduk serta membuat lubang-lubang di dalam tanah. Lubang-lubang yang dibuat cacing itu memudahkan udara dan air masuk ke dalam tanah. Air dan udara sangat diperlukan oleh tumbuhan agar dapat tumbuh dengan baik. Tanpa disadarinya, cacing telah membantu penggemburan dan penyuburan tanah yang sangat bermanfaat bagi tumbuhan.

2. Ekosistem

Ekosistem adalah tempat terjadinya hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Ekosistem alami

b. Ekosistem buatan

Ekosistem alami terjadi karena peristiwa alam dan tanpa campur tangan manusia, misalnya hutan, sungai, danau dan laut. Sedangkan ekosistem buatan terjadi karena sengaja dibuat oleh manusia, misalnya kebun, sawah, kolam, dan akuarium.

Tumbuhan menyerap energi matahari dan memakainya untuk membuat makanan sendiri melalui proses fotosintesis. Oleh karena itu, dalam suatu ekosistem tumbuhan berperan sebagai produsen (penghasil makanan). Sedangkan manusia dan hewan disebut sebagai konsumen. Konsumen artinya pemakai atau pemakan.

Setiap ekosistem memiliki berbagai anggota, baik makhluk hidup maupun benda tak hidup. Beberapa jenis makhluk hidup yang tinggal bersama dalam satu lingkungan/ekosistem disebut komunitas. Misalnya komunitas yang hidup di ekosistem sawah terdiri dari tanaman padi, rumput, cacing, kodok, dan ular sawah.

3. Rantai Makanan

Tak satu pun makhluk hidup yang dapat hidup sendiri. Mereka saling tergantung satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Contohnya biji padi dimakan tikus, tikus dimakan ular, dan ular dimakan elang. Jika elang mati, bangkai elang diuraikan oleh bakteri. Bangkai yang terurai oleh bakteri menjadi zat-zat yang menyuburkan tanah. Tanah yang subur menjadikan padi tumbuh subur. Perjalanan makan dan dimakan itu membentuk seperti rantai sehingga disebut rantai makanan.

Hewan yang memakan produsen (tumbuhan) disebut konsumen tingkat I. Hewan yang memakan konsumen tingkat I disebut konsumen tingkat II. Hewan yang memakan konsumen tingkat II disebut konsumen tingkat III. Begitu seterusnya. Suatu ekosistem biasanya memiliki hingga konsumen tingkat IV atau disebut konsumen puncak. Konsumen puncak adalah hewan yang tidak dapat dimakan lagi oleh hewan lainnya. Dalam contoh di atas yang menjadi konsumen puncak adalah elang.

a. Rantai Makanan di Sawah

[Gambar: Rantai makanan di sawah ular burung elangpadi tikus]

Rantai makanan adalah perjalanan makan dan dimakan dengan urutan tertentu antarmakhluk hidup. Perhatikan gambar di atas! Padi dimakan oleh tikus, kemudian tikus dimakan oleh ular, ular dimakan oleh burung elang. Setelah beberapa waktu burung elang mati, bangkainya membusuk dan bercampur dengan tanah membentuk humus. Humus sangat dibutuhkan tumbuhan, terutama rumput. Begitulah seterusnya sehingga proses ini berjalan dari waktu ke waktu.

b. Rantai Makanan di Laut

Di lautan, yang menjadi produsen adalah fitoplankton, yaitu sekumpulan tumbuhan hijau yang sangat kecil ukurannya dan melayang-layang dalam air. Konsumen I adalah zooplankton (hewan pemakan fitoplankton), sedangkan konsumen II-nya adalah ikan-ikan kecil, konsumen III-nya adalah ikan-ikan sedang, konsumen IV-nya adalah ikan-ikan besar.

 

C. Akibat Perubahan Lingkungan terhadap Makhluk Hidup

Setiap makhluk hidup berusaha memenuhi kebutuhannya agar bisa bertahan hidup. Kebutuhan makhluk hidup diperoleh dari lingkungannya yang berupa makhluk hidup lain dan benda tak hidup. Kehidupan berjalan baik jika hubungan makhluk hidup itu dengan lingkungannya berlangsung baik. Setiap perubahan lingkungan, sekecil apapun perubahan itu, akan berpengaruh terhadap berlangsungnya kehidupan. Rantai makanan tidak akan terputus selama semua bagian dari rantai makanan tetap berperan. Misalnya, rantai makan di sawah akan terus terbentuk jika ada padi, tikus, ular, elang, dan bakteri. Jika tidak ada padi, maka tikus akan kelaparan. Jika tidak ada tikus maka ular sawah juga menjadi kelaparan. Akan berbahaya jika ular sawah mencari mangsa yang lain, misalnya anak ayam yang dipelihara penduduk. Jadi terbukti bahwa sedikit saja perubahan terjadi pada salah satu bagian dalam lingkungan, maka akan berpengaruh terhadap keadaan lingkungan secara keseluruhan, tak terkecuali pada manusia.

Perubahan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada manusia. Beberapa hal yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan antara lain sebagai berikut:

1. Penebangan dan Kebakaran Hutan

Berbagai jenis tumbuhan dan hewan hidup di hutan. Bagi manusia, hutan mempunyai peran yang sangat penting. Dari hutan, banyak kebutuhan manusia yang didapat. Misalnya:

a. Kayu untuk membuat rumah atau furnitur.

b. Pepohonan di hutan melindungi bumi dari tanah longsor dan banjir.

c. Hutan mampu menyerap air yang cukup besar.

Tetapi karena keserakahan manusia hutan bisa rusak, misalnya:

a. Penebangan hutan

secara liar untuk lahan industri (perusahaan).

b. Kebakaran hutan yang merusak keseimbangan lingkungan.

[Gambar: Kebakaran hutan]

2. Pencemaran

Pencemaran atau polusi dapat merusak tanah, air, udara dan sungai. Pencemaran tanah membuat tanah menjadi gersang, akibatnya tidak dapat ditanami. Pencemaran di air bisa merusak kehidupan di air, akibatnya tumbuhan air dan ikan akan mati. Pencemaran udara akan mengakibatkan sakit saluran pernapasan. Pencemaran yang terjadi sangat mengganggu kelangsungan hidup manusia.

[Gambar Pencemaran udara oleh asap pabrik]