Semester 2 Bab 3 - Persebaran Manusia Di Indonesia

Bab 3

Persebaran Manusia di Indonesia

 

Standar Kompetensi

  1. Menganalisis peradaban Indonesia dan dunia.

Kompetensi Dasar

2.3  Menganalisis asal usul dan persebaran manusia di kepulauan Indonesia.

Nilai Karakter Bangsa  : 

Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab. 

Motivasi Belajar

Manusia purba telah ada sejak zaman dahulu. Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai tempat bermukimnya manusia purba. Hal ini terbukti dari ditemukannya fosil-fosil manusia purba serta alat-alat kebudayaannya. Jenis manusia purba di Indonesia tidak hanya satu. Ada Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus, dan lain-lain. Selain itu, mereka memiliki ciri yang dapat dibedakan antara manusia purba yang satu dengan yang lainnya. Dapatkah kamu menyebutkan ciri-ciri manusia purba tersebut?

 

Materi Pembelajaran

A.  Teori-Teori Asal Usul Masyarakat Indonesia

Berikut ini teori-teori para ahli tentang asal usul masyarakat Indonesia.

1.   Prof. Dr. H. Kern

Prof. Dr. H. Kern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern menyatakan bahwa bahasa-bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Robert von Heine Geldern

Robert von Heine Geldern memiliki pendapat yang tidak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia.

 

  1. 2.    Willem Smith

Willem Smith berpendapat bahwa asal usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Kemudian bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia.

4.   Hogen

Hogen berpendapat bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatra. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 - 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 - 500 SM.

5.   Drs. Moh. Ali

Ali berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang.

 

6.   Prof. Dr. Krom

Prof. Dr. Krom menyatakan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM - 1.500 SM.

  1. Mayundar

Mayundar berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indo-Cina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.

8.   Dr. Brandes

Dr. Brandes menyatakan bahwa suku-suku yang bermukim di Kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar; sebelah selatan yaitu Jawa, Bali; sebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika.

9.   Prof. Muhammad Yamin

Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar Kepulauan Indonesia. Menurut Prof. Muhammad Yamin, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Prof. Muhammad Yamin bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia.

10. Penelitian Biologis

Persebaran ras, rumpun, bangsa, dan suku, selain dapat diteliti melalui ilmu antropologi juga dapat dilacak melalui penelitian biologis, yakni pada gen manusia. Gen merupakan bagian dari kromosom yang menjadi lokasi tempat sifat-sifat keturunan (hereditas) pada makhluk hidup. Dalam gen inilah terdapat senyawa asam yang bernama deoxyribo nucleic acid (DNA).

B.  Proses Migrasi Proto Melayu dan Deutro Melayu

Sekitar tahun 1.500 SM, bangsa dari Campa terdesak oleh bangsa lain yang datang dari Asia Tengah (sekitar Mongol). Bangsa yang terdesak ini lalu bermigrasi ke Kamboja dan meneruskannya ke Semenanjung Malaka. Dari Malaka, mereka melanjutkan pelariannya ke daerah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Filipina. Masyarakat yang bermigrasi ke Filipina kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi dan Maluku. Selanjutnya, mereka yang mendiami wilayah Indonesia membentuk komunitas masing-masing. Mereka berkembang menjadi suku-suku tersendiri, seperti Aceh, Batak, Padang, dan Palembang di Sumatra, Sunda dan Jawa di Pulau Jawa, Dayak di Kalimantan, Minahasa, Bugis, Toraja, dan Makassar di Sulawesi, serta Ambon di Maluku. Sedangkan mereka yang bercampur dengan bangsa asli yang berkulit hitam berkembang menjadi suku-suku tersendiri, seperti di Flores.

Selain teori di atas, ada pendapat yang menyatakan bahwa
nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang Melayu. Bangsa Melayu ini telah mendiami Indonesia bagian barat dan Semenanjung Melayu (Malaysia) sejak dulu. Para ahli membagi dua bangsa Melayu ini, yaitu Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda).

1.   Proto Melayu (Melayu Tua)

Para ahli memperkirakan bahwa bangsa Proto Melayu memiliki peradaban
satu tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia purba yang
ada di Indonesia. Bangsa Proto Melayu berkebudayaan Batu
Muda (Neolithikum). Benda-benda buatan mereka masih
menggunakan batu, namun lebiht halus. Kebudayaan kapak
persegi dibawa bangsa Proto Melayu melalui jalan barat, sedangkan
kebudayaan kapak lonjong melalui jalan timur. Sebagian dari mereka
ada yang bercampur dengan ras kulit hitam.

Pada perkembangan selanjutnya, mereka terdesak ke arah
timur karena kedatangan bangsa Melayu Muda. Keturunan Proto
Melayu ini sampai kini masih berdiam di Indonesia bagian timur,
seperti di Dayak, Toraja, Mentawai, Nias, dan Papua. Sementara
itu, bangsa kulit hitam yang tidak mau bercampur
dengan bangsa Proto Melayu lalu berpindah ke pedalaman atau
pulau terpencil agar terhindar dari pertemuan dengan suku atau
bangsa lain yang mereka anggap sebagai pengganggu. Keturunan
mereka hingga kini masih dapat dilihat meski populasinya sedikit,
antara lain orang Sakai di Siak, orang Kubu di Palembang, dan
orang Semang di Malaka.

2.   Deutro Melayu (Melayu Muda)

Bangsa Deutro Melayu memasuki kawasan Indonesia sekitar 500
SM secara bergelombang. Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu
melalui daerah Semenanjung Melayu terus ke Sumatra dan
tersebar ke wilayah Indonesia yang lain. Kebudayaan mereka lebih
maju daripada bangsa Proto Melayu. Mereka telah pandai membuat benda-benda logam (perunggu). Kepandaian ini lalu berkembang menjadi membuat besi. Kebudayaan Melayu Muda ini sering disebut kebudayaan Dong Son.

Keturunan bangsa Deutro Melayu selanjutnya
berkembang menjadi suku-suku tersendiri, misalnya Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain. Kern menyimpulkan hasil penelitian bahasa yang tersebar di Nusantara adalah serumpun karena berasal dari bahasa Austronesia. Perbedaan bahasa yang terjadi di daerah-daerah Nusantara seperti bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minangkabau, dan sebagainya, merupakan akibat dari keadaan alam Indonesia sendiri yang dipisahkan oleh laut dan selat.

Bangsa Deutro Melayu inilah yang berhasil mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang lebih maju daripada bangsa Proto Melayu dan bangsa Negrito yang menjadi penduduk di pedalaman. Hingga sekarang keturunan bangsa Proto Melayu dan Negrito masih bermasyarakat secara sederhana, mengikuti pola moyang mereka, dan kurang bersentuhan dengan budaya luar seperti India, Islam, dan Eropa. Sedangkan bangsa Deutero Melayu mampu berasimilasi dengan kebudayaan Hindu-Budha, Islam, dan Barat.

C.   Kebudayaan Bacson Hoabinh, Dong Son, Sa Huynh, dan India

Kebudayaan-kebudayaan yang cukup memengaruhi
kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia adalah kebudayan
yang berasal dari Bacson-Hoabinh, Dong Son, Sa Huynh, dan
India.

1.   Kebudayaan Bacson-Hoabinh

Kebudayaan Bacson-Hoabinh terletak di Vietnam bagian utara yang berlangsung tahun 10.000 SM – 4000 SM. Kebudayaannya berkaitan dengan masa berburu dan meramu. Peralatan hidup terbuat dari batu yang dipakai untuk aktivitas berburu dan meramu. Ciri kebudayaan Bacson-Hoabinh dikaitkan dengan tempat pembuatan peralatan hidup dari batu dengan ciri dipangkas pada satu atau dua sisi permukaannya.

a.   Kebudayaan Bacson

Budaya Bacson berasal dari daerah Bacson, Tonkin. Kelompok orang Melanesoid yang menyebar di Indo-Cina dari arah utara ke selatan pada gelombang kedua selanjutnya berasimilasi dengan orang Austroloid. Mereka mengembangkan budaya kapak pendek dengan memotong sebuah kapak bersisi dua dan mengasah bagian tajamannya.

b.   Kebudayaan Hoabinh

Kebudayaan Hoabinh memiliki karakter Mesolithikum dan ciri-ciri Neolithikum. Budaya Hoabinh berkembang di wilayah Tonkin, yaitu daerah Hoabinh dan daerah Annam (Tanh Hoa dan Quang-Binh). 

Budaya Bacson-Hoabinh merupakan kebudayaan yang berkembang di wilayah Asia Tenggara yang berpusat di daerah Bacson dan Hoabinh. Kebudayaan yang menjadi ciri khusus adalah kebudayaan batu tengah atau Mesolithikum. Kapak yang dikerjakan secara kasar ditemukan disamping kapak yang sudah diasah tajamnya. Oleh R. Soekmono kapak ini disebut dengan Proto Neolithikum.

 

Sisa-sisa kebudayaan Bacson dan Hoabinh banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara berupa kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi berfungsi sebagai alat untuk memotong kayu, juga sebagai cangkul untuk mengolah tanah (beliung) dan untuk memahat (tarah). Kapak lonjong berupa kapak yang penampangnya berbentuk lonjong dengan ujungnya yang lancip yang ditempatkan pada tangkai, sedangkan ujung yang lain agak bulat dan diasah.

Di Jawa, bukti arkeologis dari peralatan hidup dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukan di lembah sungai Bengawan Solo. Sedangkan di daerah lain meliputi Lhokseumawe dan Medan (Sumatra). Sekitar tahun 600 SM, berlangsung proses perpindahan bentuk peralatan hidup dalam masyarakat Bacson-Hoabinh. Peralatan berupa batu serpih berubah menjadi kapak batu yang berfungsi sebagai alat pemotong.

Dengan demikian, budaya Bacson-Hoabinh yang sampai di Indonesia mewarnai zaman Neolithikum. Budaya yang berkembang yaitu budaya Pebble dan alat dari tulang yang masuk Indonesia melalui jalan barat. Sedangkan jalan timur merupakan kebudayaan Flakes.

 

2.   Kebudayaan Dongson

Kebudayaan Dongson (1500 – 500 SM) terletak di kawasan Sungai Ma, Vietnam. Berbagai penelitian berhasil mengungkapkan banyak peralatan hidup yang terkait dengan budaya Yunan dan berbagai tempat di Indonesia. Kebudayaan ini menghasilkan peralatan hidup dari perunggu dan nekara serta alat dari besi dan kubur pada zaman logam. Budaya Dongson didukung oleh bangsa Austronesia.

Dari Dongson, kebudayaan perunggu menyebar ke Indonesia melalui jalan barat. Kebudayaan Dongson dibawa oleh bangsa Austronesoid. Kebudayaan Dongson telah diselidiki oleh Victor Goloubew yang berpendapat bahwa kebudayaan perunggu berkembang sejak abad pertama sebelum Masehi. Sedangkan menurut von Heine Geldern, kebudayaan Dongson paling muda berasal dari tahun 300 SM. Hal ini diperkuat dengan penelitian hiasan nekara Dongson yang tidak sama dengan hiasan Tiongkok dari Dinasti Han.

 

3.   Kebudayaan Sa Huynh

Pembuatan gerabah mengalami perkembangan untuk keperluan sehari-hari, upacara ritual dan penguburan. Gerabah untuk keperluan sehari-hari berfungsi sebagai tempat air dan makanan. Sebagai peralatan upacara digunakan untuk tempat sesajen. Sedangkan untuk penguburan, gerabah/ tembikar digunakan sebagai bekal kubur.

Pembuatan gerabah tidak dapat dilepaskan dari budaya Sa Huynh. Budaya Sa Huynh berada di Vietnam bagian selatan. Kebudayaan Sa Huynh dapat dikatakan hampir sama dengan kebudayaan Dongson. Peralatan hidup yang ditemukan berupa bejana kecil, gelang dan perhiasan. Budaya ini didukung oleh masyarakat yang berbahasa Austronesia yang diperkirakan berasal dari daerah di kepulauan Indonesia. Pendukung budaya tersebut dapat berasal dari daerah semenanjung Malaya atau Kalimantan. Kebudayaan Sa Huynh memiliki ciri khas berupa penemuan kubur tempayan, yaitu jenasah dimasukkan dalam tempayan besar. Hal ini berarti bahwa tempayan atau gerabah digunakan tidak hanya untuk keperluan sehari-hari, namun juga sebagai kubur.

4.   Kebudayaan India

Pada masa ini mulai
bermunculan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di bagian barat Indonesia. Berbeda dengan pengaruh budaya Vietnam yang kebanyakan berupa perkakas fisik, pengaruh budaya India cenderung lebih dalam hal nonfisik, di antaranya kesusastraan. Karya sastra berbahasa Sanskerta dan Tamil sudah lama berkembang di wilayah Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Menjelang tahun 70 M, menurut kronik dari Romawi terdapat bukti bahwa cengkeh dari Maluku telah mencapai Roma, Italia melalui perdagangan laut. Hal ini menimbulkan penafsiran bahwa sekitar abad ke-1 sampai abad ke-5 Masehi telah ada pusat-pusat perdagangan di kawasan Nusantara yang dilewati rute-rute perlayaran dagang. Pemukiman dagang ini awalnya hanya sebagai tempat persinggahan dan peristirahatan para pelaut dan pedagang sebelum melanjutkan perjalanan. Para pedagang tersebut mengajak pedagang dari Indonesia untuk ikut serta dalam pelayaran dan perdagangan mereka. Akhirnya, kepulauan Nusantara menjadi salah satu pusat kegiatan perniagaan yang dilakukan pedagang asing seperti Cina, India, Indo-Cina, Arab, Persia, bahkan dari Romawi yang datang dari penjuru Eropa bagian barat.

Soal