Semester 2 BAB I - PERUBAHAN LITOSFER DAN PEDOSFER SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

BAB I

PERUBAHAN LITOSFER DAN PEDOSFER SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

 

Standar kompetensi :

Menganalisa unsur-unsur geosfer

Kompetensi dasar:

Menganalisa dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi.

Penanaman Nilai Karakter Bangsa

Setelah mempelajari materi ini diharapkan siswa memiliki sikap kerja keras, jujur, saling menghargai, dan inovatif

 

 

Litosfer berasal dari kata lithos artinya batuan, dan sphere artinya lapisan. Secara harfiah litosfer adalah lapisan bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan kulit bumi. Pada lapisan ini pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Si02, itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat dan memiliki ketebalan rata-rata 30 km yang terdiri atas dua bagian, yaitu Litosfer atas (merupakan daratan dengan kira-kira 35% atau 1/3 bagian) dan Litosfer bawah (merupakan lautan dengan kira-kira 65% atau 2/3 bagian). Sedangkan, Pedosfer adalah lapisan paling atas dari permukaan bumi tempat berlangsungnya proses pembentukan tanah. Secara sederhana pedosfer diartikan sebagai lapisan tanah yang menempati bagian paling atas dari litosfer. Tanah (soil) adalah suatu wujud alam yang terbentuk dari campuran hasil pelapukan batuan (anorganik), organik, air, dan udara yang menempati bagian paling atas dari litosfer. Ilmu yang mempelajari tanah disebut pedologi, sedangkan ilmu yang secara khusus mempelajari mengenai proses pembentukan tanah disebut pedogenesa. Agar lebih jelas mari kita pelajari litosfer dan pedosfer beserta latihan soal.

 

 

Ringkasan Materi I

 A.    Struktur lapisan kulit bumi (Litosfer) dan pemanfaatannya

1.   Pengertian Litosfer

Lapisan kulit bumi sering disebut litosfer. Litosfer berasal dari kata litos = batu, sfeer = spaira = bulatan. Litosfer merupakan lapisan batuan/kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi yang bulat dengan ketebalan kurang lebih 1.200 km. Tebal kulit bumi tidak merata. Kulit bumi di bagian benua/dataran lebih tebal daripada di bawah samudera. Bumi tersusun atas beberapa lapisan, yaitu sebagai berikut.

  1. Barisfer, yaitu lapisan inti bumi merupakan bahan padat yang tersusun dari lapisan nife(niccolum=nikel dan ferrum=besi). Jari-jari ± 3.470 km dan batas luarnya kurang lebih 2.900 km di bawah permukaan bumi.
  2. Lapisan pengantara, yaitu lapisan yang terdapat di atas lapisan nife setebal 1.700 km. Berat jenisnya rata-rata 5 gr/cm3. lapisan pengantara, disebut asthenosfer(mantle), merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan berpijar.
  3. Litosfer, yaitu lapisan yang terletak di atas lapisan pengantara, dengan ketebalan 1.200km. berat jenisny rata-rata 2,8 gr/cm3. litosfer(kulit bumi) terdiri atas dua bagian:

1)     Lapisan sial, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO­­­­­­2 dan Al­2O3. dalam lapisan ini antara lain terdapat batuan sedimen, granit, andesit, jenis-jenis batuan metamorf, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua. Lapisan sial disebut juga lapisan kerak bersifat padat dan kaku berketebalan rata-rata± 35 km.

Kerak ini di bagi menjadi duan bagian, yaitu:

  1. Kerak benua merupakan benda yang padat yang terdiri atas batuan beku granit pada bagian atasnya dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya.
  2. Kerak samudera, meruoakan benda padat yang terdiri atas endapan laut bagian atas, kemudian di bawahnya batuan-batuan vulkanik dan yang paling bawahnya batuan-batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan periodotif. Kerak ini menempati sebagai samudera.

2)   Lapisan Sima, yaitu lapisan kulit yang oleh logam-logam silisium magnesium dalam bentuk senyawa SiO­­2­­­ dan MgO. Lapisan ini mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral ferromagnesium dan batuan basalt. Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata-rata 65 km.

2.   Macam-macam batuan

      Batu-batuan kulit bumi dapat di bagi menjadi tiga golongan, yaitu batuan beku, batuan sedimen dan metamorf.

  1. batuan beku

Ada dua macam batuan beku, yaitu batuan beku dalam (contohnya batu granit), dan batuan beku luar (contohnya batu andesit ). Untuk mengetahui ketepatan batuan jenis batuan harus dilakukan uji laboratorium dengan menggunakan mikroskop untuk melihat bentuk kristal batuanya.

b.   Batuan sedimen

Ada beberapa macam batuan sedimen, yaitu batuan sedimen klastik, sedimen kimiawi dan sedimen organic. Sedimen klastik berupa campuran hancuran batuan beku, contohnya breksi, konglomerat dan batu pasir. Sedimen kimiawi berupa endapan dari suatu pelarutan, contohnya batu kapur dan batu giok. Sedimen organic berupa endapan sisa sisa hewan dan tumbuhan laut contohnya batu gamping dan koral.

c.   Batuan Malihan (Batuan Metamorf)

Batuan malihan atau metamorf adalah batuan yang berubah bentuk. Contohnya kapur (kalsit) berubah menjadi marmer, atau batuan kuarsa menjadi kuarsit.

3.   Pemanfaatan lithosfer

Lithosfer merupakan bagian bumi yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan dan memiluki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Litosfer bagian atas merupakan tempat hidup bagi manusia, hewan dan tanaman. Manusia melakukan aktifitas di atas lithosfer. Selanjutnya lithosfer bagian bawah mengandung bahan bahan mineral yang sangat bermanfaat bagi manusia. Bahan bahan mineral atau tambang yang berasal dari lithosfer bagian bawah diantaranya minyak bumi dan gas, emas,

batu bara, besi, nikel dan timah. Melihat manfaat Litthosfer yang demikian besar tersebut sepantasnyalah kita selalu bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

                   

B.   Macam-Macam Bentuk Muka Bumi Sebagai Akibat Proses Vulkanisme, Seisme, Dan Diatropisme

1.   Tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi terdiri atas tenaga endogen dan eksogen.

  1. tenaga endogen, merupakan tanaga yang berasal dari bumi. Tenaga ini dapat memberi bentuk relief di permukaan bumi. Adapun termasuk tenaga endogen, meliputi tektonik dan vulkanik.
  2. Tenaga eksogen, merupakan tenaga yang berasal dari luar bumi. Tenaga eksogenn meliputi pelapukan (weathering), dan erosi (pengikisan).

Jenis-jenis tenaga tersebut, baik tenaga endogen maupun eksogen, akan memengaruhi.

2.     Gejala vulkanisme.

Vulkanisme yaitu peristiwa yang sehubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi.Magma dapat berbentuk gas padat dan cair. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma.

a.     intrusi magma

intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batu-batuan, tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

1)     Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup diantara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.

2)     Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.

3)     Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela sela lipatan (korok).

4)     Diatroma adalah lubang (pipa) diantara dapur magma dan kepundan gunung berapi bentuknya seperti silinder memanjang .

  1. Ekstrusi magma

Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar Permukaan bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi bila tekanan Gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit bumi. Ekstrusi magma dapat di bedakan Menjadi:

1)     Erupsi linier, yaitu magma keluar melalui retakan pada kulit bumi, berbentuk Kerucut gunung api.

2)     Erupsi sentral, yaitu magma yang keluar melalui sebuah lubang permukaan bumi dan membentuk gunung yang letaknya tersendiri. Erupsi sentral manghasilkan 3 macam bentuk gunung api, yaitu:

a)     Gunung api Maar

Bentuknya seperti danau kecil (danau kawah). Terjadi hanya karena letusan(eksplosif). Bahannya terdiri atas efflata. Contohnya terdapat di lerang gunung lamongan jawa timur, pegunungan eifel jerman, dan di daratan tinggi perancis.

b)    Gunung api kerucut (strato)

Bentuknya seperti kerucut, terjadi karena letusan dan lelehan (efusi), secara bargantian. Bahannya berlapis-lapis, sehinnga di sebut lava gunung api strato.

c)     Gunung api perisai (tameng)

Bentuknya seperti perisai, terjadi karena lelehan maupun cairan yang keluar dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair sekali. Sudut kemiringan lereng antara 10-100. contohnya: Gunung Mauna Loa dan kilanca di Hawai.

3)     Erupsi areal, yaitu magma yang meleleh pada permukaan bumi karena letak Magma yang sangat dekat dengan permukaan bumi, sehingga terbentuk kawah gunung berapi yang sangat luas.

 

3.   Bahan- bahan yang dikeluarkan oleh tenaga Vulkanisme

      a.   benda padat (efflata)

menurut asalnya efflata di bagi dua, yakni efflata allogen: berasal dari batu-batuan sekitar pipa kawah yang ikut terlempar, dan efflata antogen: berasal dari magma sendiri disebut juga pyrocklastik. Menurut ukuran, efflata di bedakan atas: bon(batu besar-besar), lapili(batu sebesar kacang/kerikil), pasir, debu, dan batu apung(batu yang penuh pori udara).

      b.   benda cair, terdiri atas:

1)     Lava, yaitu magma yang telah sampai di luar.

2)     Lahar panas, berupa lumpur yang panas mengalir yang terjadi dari magma bercampur air.

3)     Lahar dingin, yaitu batu, pasir, dan debu puncak gunung.

  1. bahan gas(ekshalasi) terdiri atas:

1)     Solfatar, yaitu gas (H­2S) yang keluar dari lubang.

2)     Fumarol, Yaitu tempat yang mengeluarkan uap air.

3)     Mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan CO­2 seeperti pegunungan Dieng dan gunung Takubanperahu.

Ciri ciri gunung api yang akan meletus, antara lain:

1) Suhu di sekitar gunung naik.

2) Mata air menjadi kering

3) Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang kadang disertai getaran(gempa)

4) Tumbuhan di sekitar gunung layu, dan

5) Binatang di sekitar gunung bermigrasi.

 

Danau vulkanik

Setelah gunung merapi meletus atas kepundannya yang kedap air dapat menampung air dan membetuk danau. Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk akibat letusan gunung yang kuat sehingga menghancurkan bagian puncaknya, kemudian membentuk sebuah cekungan besar, cekungan menampung air dan membentuk danau.

Contoh danau vulkanik, antara lain: danau di pucak gunung lokon di Sulawesi Utara dan Danau Kelimutu di Flores.

Manfaat dan kerugian vulkanisme

Peristiwa vulkanik selain memberikan manfaat juga dapat menimbulkan kerugian harta benda maupun jiwa. Keuntungan yang kita peroleh setelah vulkanisme berlangsung antara lain:

1)   Objek wisata berupa kawah (Kawah gunung bromo ), sumber air panas yang memancar (Yellowstone di amerika serikat, dan pelabuhan ratu di cisolok), sumber air mineral (Maribaya di jawa barat dan Baturaden di jawa tengah)

      2)   Sumber energi panas bumi misalnya di kamojang, Jawa Barat.

      3)   Tanah subur yang akan diperoleh setelah beberapa tahun kemudian.

 

Kerugian yang kita alami terutama adalah berupa jiwa dan harta benda, karena:

      1)   Gempa bumi yang dapat ditimbulkanya dapat merusak bangunan.

      2)   Kebakaran hutan akibat aliran lava pijar.

      3)   Tebaran abu yang sangat tebal dan meluas dapat merusak kesehatan dan mengotori sarana yang ada.

            4.   Gempa bumi (seisme)

Gempa bumi ialah getaran permukaan bumi yang di sebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam. Dilihat dari intensitasnya, ada dua macam gempa, yaitu sebagai berikut:

  1. Macroseisme, yaitu gempa yang intesitasnyan besar dan dapat di ketahui tanpa menggunakan alat.
  2. Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan dapat di ketahui dengan menggunakan alat perekam.

Dalam kajian seismologi ini diiperlukan berbagai alat. Salah satu alat yang terpenting adalah seismograf atau alat untuk mencatat gempa. Ada dua macam seismograf, yaitu sebagai berikut.

  1. Seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran pada arah horisontal.
  2. Seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah vertikal.

Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo gelombang tektonik di catat oleh seismograf dengan menggunakan skala ritcher. Selain itu ada massa yang bebas dari getaran gempa yang di sebut massa stasioner. Cara kerjanya apabila pada masa stasioner tadi di pasang pena tajam dan ujung pena itu di singgungkan pada benda lain yang di pancangkan di tanah. Maka pada saat bumi bergetar, akan terjadi goresan antara massa stasioner dan benda tersebut.

5.   Bentuk muka bumi akibat diatropisme

Ditropisme adalah proses pembentukan kembali kulit bumi pembentukan gunung-gunung, lembah-lembah, lipatan lipatan dan retakan retakan. Proses pembentukan lembah kulit bumi tersebut karena adanya tenaga tektonik. Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari kulit bumi yang menyebabkan perubahan lapisan permukaan bumi, baik mendatar maupun vertikal. Tenaga tektonik adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan gerak naik dan turun lapisan kulit bumi. Gerak itu meliputi gerak orogenetik dan gerak epirogenetik. (orogenesa dan epiro genesa).

1.   Gerak orogenetik adalah gerak yang dapat menimbulkan lipatan patahan retakan disebabkan karena gerakan dalam bumi yang besar dan meliputi daerah yang sempit serta berlangsung dalam waktu yang singkat.

a). Lipatan, yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat, kerutan atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan aliklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal, ada beberapa lipatan, yaitu lipatan tegak miring, rebah, menggantung, isoklin dan kelopak.

 

                              Gb. Bentuk-bentuk lipatan

a. lipatan tegak              d. lipatan menggantung

b. lipatan miring             e. lipatan isoklin

c. lipatan rebah              f. lipatan kelopak

 

b)   Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung yang dalam waktu yang sangat cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst. Horst adalah tanah naik, terjadi bila terjadi pengangkatan. Graben adalah tanah turun, terjadi bila blok batuan mengalami penurunan.

                       

                                    Gb horst dan Graben

 

2.   Gerak epirogenetic yaitu gerak yang dapat menimbulkan permukaan bumi seolah turun atau naik, disebabkan karena gerakan di bumi yang lambat dan meliputi daerah yang luas gerak epirogenetik di bedakan menjadi dua, yaitu gerak epiro genetic positif dan gerak epiro genetic negatif.

a)     Gerak epirogenetic positif adalah gerakan permukaan bumi turun dan seolah olah permukaan air laut naik. Contoh, turunya pulau-pulau di kawasan Indonesia timur (Kepulauan Maluku dan kepulauan Benda)

b)    Gerak epirogenetic negatif adalah gerakan permukaan bumi seolah olah permukaan bumi naik dan seolah olah permukaan air turun. Contoh, naiknya dataran tinggi Colorado.

6.     Pelapukan, pengikisan, dan erosi.

1.   Pelapukan

      Pelapukan adalah perusakan karena pengaruh cuaca(temperatur), air, atau organisme. Pelapukan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

a.   Pelapukan fisik dan mekanik.

Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya. Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:

      1.   Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.

      2.   Adapun pembekuan air di dalam batuan

      3.   Berubahnya air garam menjadi kristal.

b.   Pelapukan organik

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.

c.   Pelapukan kimiawi

Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst).

2.   Pengikisan (erosi)

Erosi merupakan pengikisan permukaan kulit bumi karena aliran air, es, atau angin.

a.   Pengikisan (erosi) oleh air laut

Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang Terjadi secara terus - menerus terhadap dinding pantai.

b.   Erosi oleh es/gletser

Erosi oleh gletser merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser (lapisan es) di daerah pegunungan.

c.   Erosi oleh angin

Pengikisan oleh angin banyak terjadi di daerah gurun atau di daerah yang beriklim kering.

7.     Pengendapan(sedimentasi)

Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan

oleh Air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Semua batuan hasil pelapukan dan pengikisan yang diendapkan lama kelamaan akan menjadi batuan sedimen.

 

 

Ringkasan Materi II

B.   Degradasi lahan dan dampaknya terhadap kehidupan

Lahan adalah bentang darat dari pantai sampai ke pedalaman. Ada beberapa faktor yang menentukan kualitas lahan tersebut, antara lain keadaan iklim, tinggi tempat, bentuk lahan, banyaknya unsur-unsur mineral yang terkandung ada tidaknya vegetasi.

Degradasi lahan selain akibat proses alam itu sendiri seperti terjadinya erosi dan masswasting, lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran adalah bahaya yang selalu mengancam, akibat ulah manusia di dalamnya. Padahal dampaknya sangat besar terhadap kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dampak erosi tanah dapat dirasakan langsung di daerah tempat terjadinya, antara lain sebagai berikut:

a.   Hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur, Selain itu, unsur-unsur

hara juga ikut terhanyutkan. Akibatnya tanah tidak subur lagi dan berkembang menjadi tanah yang tandus.

b.   Akibat selanjutnya adalah produksi pertanian menurun.

c.   Jika biaya produksi pertanian menjadi tinggi, maka menjadikan kemiskinan

bagi para petani.

d.   Semakin berkurangnya alternatif pengusahaan lahan, sebab jenis tanaman

yang dapat tumbuh semakin terbatas.

e.   Karena lahan garapannya sudah tidak subur, maka petani akan membuka

hutan untuk dijadikan sebagai lahan garapan baru. Hal ini sangat berbahaya

untuk terjadinya erosi kembali.

f.    Hutan semakin gundul dan erosi terus terjadi, akibatnya sumber air tanah

semakin berkurang karena infiltrasi air tidak terjadi lagi. Selanjutnya, air limpasan semakin banyak dan mengakibatkan bahaya banjir di bagian hilir.

 

 

Lahan-lahan yang memungkinkan di kelola manusia itu disebut lahan potensial, jadi lahan potensial merupakan lahan produktif, sehingga jika di kelola oleh manusia, lahan ini dapat memberikan hasil yang tinggi walaupun dengan biaya pengelolaan yang rendah.

Upaya-upaya pelestarian dan peningkatan manfaat lahan-lahan potensial di laksanakan antara lain dengan cara:

  1. Merencanakan penggunaan lahan yang di gunakan.
  2. Menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi dan intesitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
  3. Merencanakan pengunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
  4. Menggunaan lahan seoptimal mungkin untuk kepentingan manusia.
  5. Memisahkan pengguanaan lahan untuk pemukiman, industri, pertanian, perkantoran dan usaha-usaha lainya.
  6. Melakukan pengkajian terhadap kebijaksanaan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam lahan kaitanya dengan konversi penggunaan lahan.
  7. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, daerah pesisir dan daerah sekitar lautan.

Lahan kritis adalah lahan yang sangat tandus dan gundul, kesuburannya mendekati nol sehingga tidak dapat digunakan untuk pertanian dan apabila di biarkan akan menjadi padang pasir atau abukit-bukit batu dan padas.

Terjadinya lahan kritis dapat disebabkan hal berikut.

  1. peristiwa alam, misalnya gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, dan banjir.
  2. Perusakan oleh manusia, misalnya penggundulan hutan, penggalian barang tambang tanpa pengawsasan, limbah industri, pembuangan sampah plastik, peladangan berpidah-pindah dan kebakaran hutan.

C.   Ciri Dan Proses Pembentukan Tanah Di Indonesia

      1.   Proses pembentukan tanah di Indonesia

Proses pembentukan tanah di awali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisis maupun pelapukan kimia. Dari proses ini batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum di katakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan (regolith) karena masih menunjukan struktur batuan induk. Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk rtanah berubah menjadi tanah dengan proses sebagai berikut.

  1. Suhu yang tinggi pada siang hari menyebabkan memanans dan mengembang.
  2. Suhu yang rendah pada malam hari menyebabkan pendinginan pada batuan.
  3. Hujan turun mengenai batuan sehingga batuan mengerut karena suhu turun.
  4. Karena adanya pemanasan dan pendinginan secara bergantian menyebabkan permukaan batuan retak mengalami pelapukan.
  5. Hancuran batuan(hasil pelapukan) menjadi tanah.
  6. 1.     Ciri-ciri tanah

a.   Sifat fisika tanah

1)     Tekstur tanah

Tekstur tanah didefinisikan sebagai perbandingan relatif berbagai golongan besar pertikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi pasir, debu, dan lempung. Pasir, debu, dan lempung disebut partikel zarah tanah.

2)     Struktur tanah

Struktur tanah merupakan cara pengikatan butir-butir tanah yamg satu terhadap yang lain. Pada lahan-lahan rawa atau gurun, struktur tanah kurang, atau tidak terbentuk, karena butiran tanah bersifat tunggal atau tidak terikat satu sama lain.

3)     Konsistensi tanah

Konsistensi tanah merupakan sifat fisik tanah yang menyatakan besar kecilnya gaya kohesi dan adhesi dalam berbagai kelembapan. Konsistensi tanah dapat anda di ketahui dengan mencoba memecahj tanah tersebut.

4)     Suhu tanah

Suhu tanah diwaktu pagi, siang dan sore hari berbeda-beda. Pada siang hari suhu tanah lebih panas daripada pagi atau sore hari.

5)     Drainase tanah

Drainase tanah merupakan kemampuan tanah mengalirkan dan memutuskan kelebihan air, baik air tanah maupun pada air permukaan.

            b.   Sifat kimia tanah

sifat kimia tanah yaitu berupa derajat keasamaan atau pH tanah di katakan normal antara 6,5 sampai 7,5. pada keadaan ini semua unsur pada larutan tanah dalam keadaan tersedia, seperti ketersediaan nitrogen serta unsur hara lainnya.

            c.   Sifat biologi tanah

didalam tanah terjadi prose-proses yang menghasilakan sifat biologi tanah, misalnya adanya cacaing tanah akan meningkatkan unsur nitrogen, posfor, kalium, serta kalsium dalam tanahb sehingga dapat men8ingkatkan kesuburan tanah. Peranan cacing tanah yang lain berupa lubang yanag di tinggalkan di tanah akan  meningkatkan drainase tanah. Hal ini penting dalam perkembanagan  tanah.

2.     Jenis-Jenis tanah

berdasarkan bahan induk dan proses dan perubahan yang disebabkan oleh eksogen, tanah di indonesia di bedakan menjadi  beberapa jenis sebagai berikut.

  1. Tanah podzolik merah kuning ialah tanah yanag terjadi dari pelapukan batuan yang mengandug kwarsa pada iklim basah dengan curah hujan 2.500 - 3.000 mm/tahun.
    1. Tanah podzoil ialah tanah yanag berasal dari batuan induk pasir.
    2. Tanah organozol ialah tanah yang terjadi behan induk organiksep[erti gambut dan rawa pada iklim basah dengan curah hujan lebih dari dari 2.500 mm/tahun.
    3. Tanah aluvial ialah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang di bawa melalui sungai-sungai.
    4. Tanah kabpur ialah tanah yang berasal dari batuan kapur yang umumnya terdapat didaerah pegunungan kapur berumur tua.
    5. Tanah vulkjanis ialah tanah yang berasal dari pelapukan batu-batuan vulkanis, baiuk dari lava/batu yang telah membeku (effusif) maupun dari abu vulkanis yang telah membeku (efflata).
    6. Tanah pasir ialah tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk.
    7. Tanah andosol ialah jenis tanah yang berasal dari induk abu vulkan.
    8. Tanah humus iualah tanah yang terjadi dari tuymbuh-tumbuhan yang telah membusuk.
    9. Tanah laterit ialah tanah yang mengandung zt besi dan alumunium.
    10. Tanah regosol yaitu tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar
    11. Tanah litosol, yaitu jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal.

m. Tanah latosol, yaitu tanah yang terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.

  1. Tanah grumosol ialag jenis tanah yang berasal dari kapur, batruan lem,pung, tersebar di daerah iklim subhumit atau subarid, dan curah hujan kurang dwari 2.500 mm pertahun.
  2. 3.     Erosi tanah dan upaya penanggulanganya

a.   Erosi tanah
Dengan adanya erosi tanah, maka lapisan tanah atas yang subur akan rusak dan menjadikan lingkungan alam lainnya akan rusak. Adapun sebab-sebab erosi tanah karena beberapa hal berikut.

1)     Tanah gungul atau tidak ada tanamannya.

2)     Tanah miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang larut.

3)     Tanah tidak diberi tanggul pasangan pasangan sebagai penahan erosi.

4)     Tanah di kawasan hutan rusak karena pohon-pohon ditebang secara liar sehingga hutan menjasi gundul.

5)     Permukaan tanah yang berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas semakin rusak

            b.   Menjaga kesuburan tanah dan usaha mengurangi erosi tanah
Kesuburan tanah dapat dijaga dengan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Pemupukan, diusahakan dengan pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk buatan dan pupuk kompos.
b. Sistem irigasi yang baik, misalnya membuat bendungan-bendungan
c. Pada lereng-lereng gunung dibuat hutan-hutan cadangan
d. Menanami lereng-lereng yang telah gundul
e. Menyelenggarakan pertanian di daerah miring secara benar
Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap bidang horizontal. Semakin besar sudut kemiringan lahan tentu akan semakin besar kemungkinan erosi dan longsor.
Untuk menjaga kestabilan lahan pertanian daerah miring dan untuk mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah berikut :
a. Terasering, yaitu menanam tanaman dengan sistem berteras-teras untuk mencegah erosi tanah.
b. Contour farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga perakaran dapat menanam tanah.
c. Pembuatan tanggul pasangan (guludan) untuk menahan hasil erosi.
d. Contour plowing, yaitu membajak secara garis kontur sehingga terjadilah alur-alur horizontal.
e. Contour strip cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang-bidang tanah itu dalam bentuk sempit dan memandang dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelok-belok.
f. Crop rotatica, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis tanaman.
g. Reboisasi, menanami kembali hutan-hutan yang gundul.

            c.   Kelas Kemampuan Lahan
Tingkat kecocokan pola penggunaan lahan dinamakan kelas kemampuan lahan. Lahan kelas I sampai IV merupakan lahan yang sesuai bagi usaha pertanian, sedangkan lahan kelas V sampai VIII merupakan lahan yang tidak sesuai untuk usaha pertanian. Ketidaksesuaian karena biaya pengolahannya lebih tinggi dibandingkan hasil yang bias dicapai.
Secara lebih terperinci lahan dapat dideskripsikan sebagai berikut :
Kelas I Merupakan lahan dengan ciri tanah datar, tanahnya agak halus, mudah diolah, sangat responsif terhadap pemupukan dan memiliki sistem pengaliran air yang baik.
Kelas II Merupakan lahan dengan ciri lereng landai, butiran tanahnya halus sampai agak kasar. Tanah kelas II agak peka terhadap erosi.
Kelas III Merupakan lahan dengan ciri tanah terletak di daerah yang agak miring dengan sistem pengairan air yang kurang baik.
Kelas IV Merupakan lahan dengan ciri tanah terletak pada wilayah yang miring sekitar 15% - 30% dengan sistem pengaliran yang buruk.
Kelas V Merupakan lahan dengan ciri terletak di wilayah yang datar atau agak cekung, namun permukaannya banyak mengandung batu dan tanah liat.
Kelas VI Merupakan lahan dengan ciri ketebalan tanahnya tipis dan terletak di daerah yang agak curam dengan kemiringan lahan sekitar 30% - 45%.
Kelas VII Merupakan lahan dengan ciri terletak diwilayah yang sangat curam dengan kemiringan antara 45% - 65% dan tanahnya sudah mengalami erosi berat.
Kelas VIII Merupakan lahan dengan ciri terletak di daerah dengan kemiringan di atas 65%, butiran tanah kasar dan mudah lepas dari induknya.

            d. Lahan Kritis dan Lahan Potensial
Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis, antara lain sebagai berikut :
1)  Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan
2)  Genangan air yang terus menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa.
3)  Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Masswasting adalah gerakan massa tanah menuruni lereng.
4)  Pengelolaan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan.
5)  Material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastic.
6)  Pembekuan air atau pegunungan yang sangat tinggi.
7)  Pencemaran, pestisida dan limba pabrik yang masuk ke lahan pertanian baik melalui aliran sungai yang mengakibatkan lahan pertanian menjadi kritis.

Jika lahan kritis dibiarkan akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Upaya penanggulangan lahan kritis dilaksanakan sebagai berikut :
1) Lahan tanah dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
2) Erosi tanah perlu dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
3) Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan
4) Perlu reklamasi lahan bekas pertambangan
5) Perlu adanya usaha kea rah Program kali bersih (Prokasih)
6) Pengelolaan wilayah terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai (DAS)
7) Pengembangan keanekaragaman hayati dan pola pergiliran tanaman.
8) Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan kritis
9) Menghilangkan unsur-unsur yang dapat menganggu kesuburan lahan pertanian. Misalnya plastic. Berkaitan dengan hal ini, proses daur ulang sangat diharapkan.
10) Pemupukan dengan pupuk organik atau alami, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus menerus.
11) Guna menggemburkan tanah sawah, perlu dikembangkan tumbuhan yang disebut azola.
12) Memanfaatkan tumbuhan enceng gondok guna menurunkan zat pencemar yang ada pada lahan pertanian.
Lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonomi yang besar karena mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia.
Lahan potensial tersebar di tiga wilayah utama daratan yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi.
Upaya-upaya pelestarian dan peningkatan manfaat lahan-lahan potensial dilaksanakan antara lain dengan cara berikut :
a. Merencanakan penggunaan lahan yang digunakan manusia.
b. Menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi dan intensitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
c. Merencanakan penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
d. Menggunakan lahan seoptimal mungkin bagi kepentingan manusia.
e. Memisahkan penggunaan lahan untuk pemukiman, industri, pertanian, perkantoran, dan usaha-usaha lainnya.
f. Membuat peraturan perundangan-undangan yang meliputi pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum dan peraturan perpajakan.
g. Melakukan pengkajian terhadap kebijaksanaan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan konversi penggunaan lahan.
h. Menggunakan teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi dan pembuatan sengkedan di daerah pegunungan.
i. Perlu usaha permukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
j. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, daerah pesisir dan daerah di sekitar lautan.

Soal