Semester 2 BAB 3 - FUNGSI KONSUMSI, TABUNGAN, DAN INVESTASI

BAB 3

FUNGSI KONSUMSI, TABUNGAN, DAN INVESTASI

 

Standar Kompetensi:

Memahami konsumsi dan investasi

Kompetensi Dasar:

1.   Mendeskripsikan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

2.   Mendeskripsikan kurva permintaan investasi.

 

Penanaman Nilai Karakter Bangsa

Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa memiliki sikap mandiri, kreatif, jujur, dapat dipercaya, peduli terhadap lingkungan, dan kritis.

 

 

 

Motivasi Belajar

 

Konsumsi, pendapatan, dan tabungan saling berkaitan. Semakin tinggi pendapat seseorang semakin tinggi pula konsumsinya. Konsumsi merupakan suatu kegiatan guna menghabiskan nilai guna suatu barang, jadi konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai, dimana pendapatan siap pakai merupakan  pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi  pajak penghasilan. Sedangkan tabungan merupakan  pengurangan konsumsi saat ini, demi untuk  mengkonsumsi  lebih banyak di waktu yang akan datang. Jadi, tabungan merupakan  bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi untuk saat ini.

 

Ringkasan Materi

 

A.   Konsumsi dan Tabungan

1.   Pengertian Konsumsi dan Tabungan

Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.

 

2.   Faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi dan tabungan

Pengeluaran konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah (government consumption) dan konsumsi rumah tangga (household consumption/ private consumption). Factor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara lain sebagai berikut.

a.  Faktor Ekonomi

Empat faktor yang menentukan tingkat konsumsi, antara lain sebagai berikut.

1)   Pendapatan Rumah Tangga ( Household Income )

Pendapatan rumah tangga amat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin baik tingkat pendapatan, tongkat konsumsi makin tinggi. Karena ketika tingkat pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi semakin besar atau mungkin juga pola hidup menjadi semakin konsumtif, setidak-tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik.

2)   Kekayaan Rumah Tangga ( Household Wealth )

Tercakup dalam pengertian kekayaaan rumah tangga adalah kekayaan rill (rumah, tanah, dan mobil) dan financial (deposito berjangka, saham, dan surat-surat berharga). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi, karena menambah pendapatan disposable.

3)   Tingkat Bunga ( Interest Rate )

Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi keinginan konsumsi. Dengan tingkat bunga yang tinggi, maka biaya ekonomi (opportunity cost) dari kegiatan  konsumsi akan semakin maha. Bagi mereka yang ingin mengonsumsi dengan berutang dahulu, misalnya dengan meminjam dari bankatau menggunakan kartu kredit, biaya bunga semakin mahal, sehingga lebih baik menunda/mengurangi  konsumsi .

4)   Perkiraan Tentang Masa Depan (Household Expectation About The Future)

Faktor-faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan rumah tangga antara lain pekerjaan, karier dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga yang telah bekerja.

Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi perekonomian domestic dan internasional, jenis-jenis dan arah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

 

b.   Faktor Demografi

1)   Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh, walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau per keluarga relative rendah. Pengeluaran konsumsi suatu negara akan sangat besar, bila jumlah penduduk sangat banyak dan pendapatan per kapita sangat tinggi.

2)   Komposisi Penduduk

Pengaruh komposisi penduduk terhadap tingkat konsumsi , antara lain sebagai berikut.

a)    Makin banyak penduduk yang berusia kerja atua produktif (15-64 tahun), makin besar tingkat konsumsi . Sebab makin banyak penduduk yang bekerja, penghasilan juga makin besar.

b)   Makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, tingkat konsumsinya juga makin tinggi, sebab pada saat seseorang atau suatu keluarga makin berpendidikan tinggi maka kebutuhan hidupnya makin banyak.

c)    Makin banyak penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan (urban), pengeluaran konsumsi juga semakin tinggi. Sebab umumnya pola hidup masyarakat perkotaan lebih konsumtif disbanding masyarakat pedesaan.

 

c.   Faktor-faktor Non Ekonomi

Factor-faktor non-ekonomi yang paling berpengaruh  terhadap besarnya konsumsi adalah faktor social budaya masyarakat. Misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat/ideal.

 

3    Persamaan fungsi  konsumsi dan fungsi tabungan

            Bentuk umum dari fungsi konsumsi yaitu bergaris lurus  dan mempunyai persamaan sebagai berikut.

 

 
 

C = a + b. Y

 

 

 

 

 

Dimana:

a =    Besarnya konsumsi  pada saat pendapatan nasional sebesar nol atau dikenal dengan sebutan konsumsi otonom.

b =    MPC, yaitu angka yang menunjukkan  besarnya marginal propensity to consume adalah angka perbandingan antara besarnya  perubahan konsumsi  dengan besarnya  perubahan pendapatan nasional, di mana perubahan  konsumsi yang terjadi karena adanya perubahan  pendapatan nasional.

C =    Tingkat konsumsi masyarakat

Y =    Pendapatan masyarakat.

 

b       = MPC =

            Dimana:

b =    MPC = Marginal Propensity to Consume (Hasrat konsumsi marginal)

C =    menunjukkan  besarnya  perubahan konsumsi

Y =    menunjukkan besarnya  perubahan dalam  pendapatan nasional

C1 =   tingkat konsumsi mula-mula

C2 =   tingkat konsumsi akhir

Y1 =   tingkat pendapatan mula-mula

Y2 =   tingkat pendapatan akhir

 

 
 

S = Y - C

 

 

 

 

 

Dimana:

S =    tingkat tabungan

Y =    tingkat pendapatan

C =    tingkat konsumsi

 

Berikut  hubungan fungsi Comsumption dan fungsi Saving.

S = Y – C………………(1)

C = a + b. Y……………(2)

 Persamaan 2 disubtitusikan ke persamaan 1

S       = Y – C

         = Y – (a + b. Y)

         = (1 – b). Y – a

         = -a + (1 – b). Y

Karena b = MPC, sedangkan MPC + MPS = 1, maka:

MPS = 1 – MPC atau MPS = 1 – b

Jadi persamaan fungsi saving  dapat ditulis:

S =    -a + (1 - b). Y

S =    -a + MPS. Y

Secara matematis fungsi konsumsi  dengan fungsi tabungan dapat ditulis:

C =    a + b. Y

S =    -a + (1 – b). Y

Dimana:

C =    pengeluaran utnuk konsumsi

S =    besarnya tabungan

a =    besarnya konsumsi pada saat pendapatan nol (konsumsi otonom)

b =    besarnya tambahan konsumsi yang disebabkan  karena tambahan pendapatan

Y =    Pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income)

 

      4.   Marginal Propensity to Save (MPS) dan Average Propensity to Save (APS)

Kecenderungan menabung juga dibedakan menjadi kecenderungan menabung marginal atau marginal propensity to save (MPS) dan kecenderungan menabung rata-rata atau Average Propensity to Save (APS). Kecenderungan menabung marginaladalah perbandingan antara pertambahan tabungan (∆S) dengan pertambahan pendapatan disposable (∆Y­­d). nilai MPS dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.

MPS =

Kecenderungan menabung rata-rata atau average propensity to save (APS) adalah perbandingan antara jumlah tabungan dengan jumlah pendapatan disposable. Nilai APS dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.

APS =

     

      5.   Hubungan antara MPC dengan MPS, dan APC dengan APS

            Hubungan antara Marginal Propensity to Consume dengan Marginal Propensity to Save dapat dinyatakan dengan MPC + MPS = 1.

            Hubungan antara Average Propensity to Consume  dengan Average Propensity to Save mirip dengan hubungan antara  Marginal Propensity to  Consume dengan  Marginal Propensity to Save, yaitu sebagaio berikut.

            APCn + APSn = 1 atau APCn = 1 – APSn atau APSn = 1 – APCn

            1 = APCn + APSn

     

      6.   Faktor pengaruh tingkat konsumsi dan tabungan

a.   Distribusi pendapatan nasional.

b.   Banyaknya kekayaan masyarakat  dalam bentuk alat  likuid.

c.   Pendapatan akan diterima di masa yang akan datang (Expected Income).

d.   Jumlah penduduk.

e.   Pendapatan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lalu.

f.    Harapan masyarakat akan adanya perubahan harga.

g.   Struktur pajak.

h.   Sikap masyarakat terhadap kehematan (Attitude to ward Thrift)

i.    Selera.

j.    Faktor sosial ekonomi.

k.   Keuntungan/kerugian kapitan (windfall gain)

l.    Tingkat bunga (rate of interest)

 

B.   Investasi

1.   Pengertian Investasi

Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat. Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan, menambah/ menciptakan nilai hidup (penghasilan dan kekayaan). Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan pembatasan tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal. Stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu perekonomian pada saat tertentu.

 

2.    Teori Investasi

a.  Investasi Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan

Yang tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik, mesin, peralatan produksi, bangunan/gedung yang baru. Karena daya tahan madal dan bangunan umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).

Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap domestic bruto (PMTDB). Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih yaitu PMTDB dikurangi penyusutan. 

b.  Investasi Persediaan

Perusahaan seringkali memproduksi barang lebih banyak daripada target penjualan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/ keuntungan. Persediaan barang tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan atau investasi yang diinginkan karena telah direncanakan. Selain barang jadi, investasi dapat juga dilakukuan dalam bentuk persediaan barang baku dan setengah jadi.

 

3.   Kriteria Investasi

a.   Payback Period

Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun). 

b.   Benefit/ Cost Ratio (B/C Ratio)

Benefit Cost ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai Benefit Cost. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika Benefit Cost > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. 

c.    Net Present Value (NPV)

Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total. 

d.   Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).

 

Dengan memperhatikan criteria investasi tersebut, maka konsep nilai waktu dan uang dikenal ada dua macam, yaitu sebagai berikut.

a.    Konsep nilai sekarang (Present Value)

Konsep nilai sekarang digunakan untuk menilai arus kas masuk yang akan diterima di masa yang akan dating jika dinilai sekarang. Sehingga, konsep ini dirumuskan sebagai berikut.

 

 
 

PV = FV (1 + i)-n  atau  PV =

 

 

 

 

 

 

      

Dimana:

PV      = Nilai sekarang (Present value)

FV      = Nilai yang akan dating (Future Value)

i          = Tingkat bunga yang berlaku

n         = Jangka waktu dalam satu tahun

 

Misalnya:

Indika mendapatkan proyek jika dinilai dengan uang senilai Rp20.000.000,00, tetapi uang tersebut baru akan diterima dua tahun mendatang. Jika bunga yang berlaku sebesar 10% per tahun. Berapa uang Indika jika dinilai sekarang?

Jawab:

 

Dari perhitungan di atas, maka nilai sekarang dari sejumlah uang yang akan diterima di masa yang kana dating tentunya akan menjadi lebih kecil, karena adanya unsure pengurang atau discount factor.

 

  1. Konsep nilai mendatang (Future Value)

Konsep nilai mendatang atau yang akan dating digunakan untuk menilai dana yang dimiliki saat ini bila dihitung di masa yang akan dating. Konsep ini dirumuskan sebagai berikut.

 

 
 

FV = PV (1 + i)n

 

 

 

 

                 

Contoh:

Indika saat ini mempunyai uang sebesar Rp50.000.000,00. Jika bunga yang berlaku sebesar Rp10% per tahun, berapa uang Indika dua tahun mendatang?

Jawab:

FV            = Rp50.000.000,00 . (1 + 0,10)2

                = Rp50.000.000,00 . 1,21

                = Rp60.500.000,00

 

4.   Factor Pengaruh Pengeluaran Investasi

Pengeluaran untuk investasi dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu sebagai berikut.

a.    Tingkat suku bunga (i)

Tingkat suku bunga dirumuskan dengan I = F (i). Artinya, bahwa tinggi rendahnya tingkat investasi merupakan fungsi dari tingkat bunga.

b.   Tingkat pendapatan

      Investasi tergantung juga dari tingkat pendapatan, sehingga dapat dirumuskan I = f (Y). Jadi, secara keseluruhan investasi ditentukan oleh oleh suku bunga (i) dan pendapatan (Y), dapat ditulis I = f(I, Y).

Berikut gambar kurva investasi.

 

Soal