Semester 2 Bab 3-Proses Interaksi dan Dampak Pendudukan Jepang Terhadap Masyarakat Indonesia

Bab 3

Proses Interaksi dan Dampak

Pendudukan Jepang Terhadap Masyarakat Indonesia

 

Nilai Pendidikan Karakter

-              Cinta tanah air

-              Semangat Kebangsaan

-              Demokrasi

-              Mandiri

 

Gambar: Latihan Militer pada masa pendudukan Jepang

 

Apersepsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         Pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda sudah tidak berkuasa lagi di Indonesia, ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari panglima tentara Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Penyerahan kekuasaan tersebut berlangsung di Kalijati, Subang. Penyerangan Jepang terhadap Indonesia merupakan rangkaian dari Perang Pasifik atau Perang Dunia II. Penyerahan hak atas tanah jajahan Belanda di Indonesia kepada Jepang berdampak atau berpengaruh terhadap pergerakan-pergerakan yang ada, sehingga muncullah organisasi-organisasi dan reaksi kaum pergerakan nasional Indonesia. Bagaimana awal kedatangan Jepang di Indonesia?  Anda semua akan menyimak suatu peristiwa sejarah yang cukup penting, yaitu Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Pendudukan Jepang yang hanya berlangsung 3,5 tahun berdampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia, baik dampak negatif maupun positif. Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari materi berikut.

 

Ringkasan Materi

A.    Proses Kedatangan dan Interaksi Indonesia-Jepang pada Masa Kolonial

         1.         Kedatangan Jepang di Indonesia

                   Meletusnya Perang Asia Pasifik diawali dengan serangan Jepang ke Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawai) pada tanggal 7 Desember 1941. Keesokan harinya, yakni tanggal 8 Desember 1941, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda mengumumkan perang kepada Jepang sehingga berkobarlah Perang Asia Pasifik.

                   Sebenarnya, untuk menghadapi serangan Jepang pihak Belanda telah membentuk komando gabungan yang disebut ABDACOM (American, British, Dutch, and Australian Comando) yang dipimpin oleh H. Ter Porten. Komando gabungan itu melihat bahaya invasi militer Jepang ke wilayah Asia Tenggara dengan sebutan bahaya kuning. Namun, komando gabungan ini tetap tidak mampu menghadapi serangan-serangan Jepang.

                   Pasukan Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia setelah secara berurutan dengan terlebih dahulu menguasai Tarakan (11 Januari 1942), Palembang (14 Januari 1942), Manado (17 Januari 1942), Balikpapan (22 Januari 1942), Pontianak (22 Februari 1942), dan Bali (26 Februari 1942). Pada tanggal 1 Maret 1942 Jepang mulai menguasai Jawa. Wilayah yang pertama mereka kuasai adalah Banten, Indramayu, dan Kranggan. Batavia berhasil mereka kuasai pada tanggal 5 Maret 1942 dan Bandung pada tanggal 8 Maret 1942.

             Akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenbourgh Stachouwer dan Komandan KNIL, Letjen H. Ter Poorten mewakili Belanda menandatangani penyerahan kekuasaan kepada wakil pasukan Jepang, Letjen Hitoshi Imamura. Sejak saat itu, bangsa Indonesia mengalami pergantian penjajah. Apabila sebelumnya dikuasai oleh Belanda, maka mulai tanggal 8 Maret 1942 mulai dijajah Jepang.

         2.         Proses Interaksi Indonesia-Jepang Masa Kolonial

                   Upaya Propaganda Jepang antara lain berusaha mengadakan hubungan dengan rakyat Asia lainnya dalam suatu gerakan Persatuan Pan Asia. Pan Asia bertujuan meningkatkan kerja sama antara bangsa dan negeri di kawasan Asia serta menguatkan hubungan ekonomi perdagangan dan kebudayaan di bawah kepemimpinan Jepang. Dasar dari gerakan ini adalah dokumen rahasia (Tanaka Memorial) kepada kaisar yang menyatakan bahwa Jepang memikul tugas suci untuk memimpin bangsa-bangsa di Asia Timur dan akan disusun dalam lingkungan persemakmuran Asia Timur Raya. Doktrin itu disebut dengan Hakko-Ichiu yang juga terkenal sebagai propaganda Jepang untuk menguasai Asia.

                   Propaganda Jepang melalui Pan Asia serta Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya memang ditujukan untuk menghapuskan imperialisme Barat di Asia Pasifik. Dengan propaganda tersebut, bangsa-bangsa Asia Pasifik dapat menerima kedatangan serta kepemimpinan Jepang yang akan membebaskannya dari kekuasaan bangsa Barat. Di Nusantara, bangsa Jepang mulai mencari hubungan dengan berbagai lapisan penduduk di Indonesia dengan dalih melawan Pemerintah Belanda. Cara ini ditempuh Jepang dengan harapan agar memperoleh bantuan dari masyarakat Indonesia jika nantinya Jepang masuk menyerangnya. Usaha Jepang agar dapat diterima masyarakat Indonesia antara lain dengan cara sebagai berikut.

      a.         Memberi kredit kepada pedagang-pedagang kecil.

      b.         Menganjurkan kepada pemuda Indonesia untuk melakukan studi ke Jepang.

      c.         Mendirikan masjid di Jepang (di Kobe tahun 1935 dan Tokyo tahun 1933) untuk menarik simpati golongan Islam.

      d.         Memengaruhi pers Indonesia dengan jalan mengundang wartawan-wartawan Indonesia ke Jepang maupun penerbitan-penerbitan surat kabar atas biaya Jepang.

            

 

B.     Bentuk-Bentuk Perjuangan dan Dampak Pendudukan Jepang Di Indonesia

         1.         Bentuk-Bentuk Perjuangan Indonesia pada Masa Pendudukan Militer Jepang

                     a.   Perjuangan Bawah tanah

      Di samping organisasi-organisasi yang menjadi wadah untuk mempersiapkan gerakan-gerakan yang akan dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya, juga terdapat golongan-golongan yang terorganisir rapi yang bergerak di bawah tanah.

 

      Sambungan file 2: 

      Golongan-golongan bawah tanah di antaranya sebagai berikut.

1)  Golongan Sukarni

             Golongan ini mempunyai peranan yang sangat besar menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengikut golongan ini seperti Adam Malik, Pandu Kerta Wiguna, Khairul Saleh, dan Maruto Nitimiharjo.

2)  Golongan Sutan Syahrir

             Dalam perjuangannya, Syahrir menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang terpaksa bekerja sama dengan Jepang. Syahrir memberi pelajaran di Asrama Indonesia Merdeka milik Angkatan laut Jepang (Kaigun) bersama dengan Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ahmad Subardjo, dan Iwa Kusuma Sumantri.

3)  Golongan Ahmad Subardjo

      Golongan ini mendirikan sebuah asrama yang bernama Asrama Merdeka dengan ketuanya Wikana. Di Asrama Merdeka inilah para pemimpin bangsa Indonesia memberikan pelajaran-pelajaran yang secara tidak langsung menanamkan semangat nasionalisme kepada para pemuda Indonesia.

 

         d.  Perlawanan sejumlah Perwira pembela tanah air di Blitar, Buana dan Paundrah (Aceh), serta Cilacap

Perlawanan bersenjata terhadap Jepang terjadi di berbagai daerah, antara lain sebagai berikut.

1)             Di Blitar

      Perlawanan meletus pada tanggal 14 Februari 1945 di bawah pimpinan Supriyadi, seorang Komandan Pleton I Kompi III dari Batalion II Pasukan PETA di Blitar. Perlawanan di Blitar ini merupakan perlawanan terbesar pada masa pendudukan Jepang. Perlawanan Supriyadi ini disebabkan karena tidak tahan lagi melihat kesengsaraan rakyat yang mati karena romusha.

2)             Di Aceh

      Perlawanan pemuda Peta juga meletus di dua daerah di Aceh, yaitu Buana dan Paudrah. Pemimpinnya adalah Guguyun Teuku Hamid. Ia bersama 20 peleton pasukan melarikan diri dari asrama pada November 1944 untuk merencanakan pemberontakan. Namun, Jepang berhasil mengancam keluarga Teuku Hamid sehingga Teuku Hamid kembali lagi. Tampaknya rencana perlawanan Teuku Hamid menambah simpati dan semangat masyarakat sehingga kemudian muncul kembali perlawanan. Lahirlah perlawanan Padrah di daerah Bireun, Aceh Utara, yang dipimpin oleh seorang kepala kampung yang dibantu oleh regu Guguyun. Perlawanan tersebut menelan banyak korban dari pihak Aceh karena semua yang tertawan akhirnya dibunuh oleh Jepang.

                  

      3)       Di Cilacap

      Di Gumilir, Cilacap perlawanan dipimpin oleh seorang komandan regu bernama Khusaeri. Serangan pertama tentara Jepang terdesak. Namun, setelah bala bantuan datang Khusaeri mampu dikalahkan. Di Pangalengan, Jawa Barat, pun meletus perlawanan dari para personil Peta yang juga dapat dilumpuhkan.

     

                     2.       Dampak Pendudukan Militer Jepang terhadap Kehidupan Masyarakat Indonesia

                       a.            Bidang Kehidupan Politik

      Dampak dari penjajahan Jepang secara politik bagi bangsa Indonesia antara lain sebagai berikut.

                                1)         Semua organisasi pergerakan nasional tidak diperbolehkan ada, kecuali yang bersifat membantu Jepang.

                                2)         Semua kegiatan ditujukan untuk membantu kemenangan Jepang dalam perang.

                                               3)         Berdirinya organisasi baru, seperti Jawa Hokokai dan Putera.

 

                       b.            Bidang Kehidupan Ekonomi

      Dampak dari penjajahan Jepang secara ekonomi bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut.

                                1)  Struktur ekonomi Indonesia rusak berat.

                                2)  Jepang menguasai beberapa perusahaan vital, seperti pertambangan, listrik, dan telekomunikasi.

                                3)  Jepang memonopoli hasil perkebunan karet, kina, dan tanaman pangan.

                                4)  Penyerahan hasil panen rakyat, para petani hanya berhak mengambil 40% dari hasil panennya, selebihnya yang 60% diserahkan kepada Jepang.

                                5)  Rakyat Indonesia kekurangan sandang dan pangan yang bergizi.

                                6)  Penerapan sistem ekonomi autarki, artinya setiap daerah harus dapat mencukupi kebutuhan sendiri dan harus dapat menunjang kebutuhan perang.

                       c.             Bidang Kehidupan Sosial

      Dampak dari penjajahan Jepang secara sosial bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut.

                                1)  Untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dinilai perlu bagi masyarakat, maka Jepang mengadakan kinrohosi, yaitu pengerahan tenaga kerja secara sukarela. Pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan seperti memperbaiki jalan atau saluran air dan menanam jarak yang dilakukan secara bergantian. Adapun pekerjaan yang banyak memerlukan tenaga, tetapi untuk kepentingan militer, seperti pembuatan benteng, lapangan terbang darurat, jalan-jalan dan jembatan maka Jepang menggunakan romusha (pekerja paksa). Tenaga romusha biasanya diperlakukan secara kasar, kesehatan tidak terjamin, dan makannya tidak cukup.

                                2)  Jepang memperkenalkan adanya tonarigumi yang merupakan organisasi sosial yang efektif untuk mengerahkan tenaga rakyat serta pengawasan terhadapnya.

                                3)  Adanya tindakan asusila yang dilakukan oleh tentara Jepang kepada perempuan Indonesia (jungun ianfu).

                                4)  Status sosial masyarakat Indonesia naik setingkat dibandingkan pada masa Pendudukan Belanda.

                       d.            Bidang Kehidupan Budaya

             Dampak kehidupan budaya dari penjajahan Jepang bagi bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut.

                                1)  Ada kewajiban seikerei bagi penduduk Indonesia untuk menghormati Kaisar Jepang yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari dengan cara menghadap ke arah Tokyo (matahari terbit) dengan membungkukkan badan.

                                2)  Bahasa Indonesia diperbolehkan sebagai bahasa pengantar atau bahasa resmi.

                                3)  Kewajiban menggunakan tahun Jepang (Showa).

                                4)  Perayaan hari lahirnya Kaisar Hirohito (hari Raya Tencosestu).

                                5)  Kewajiban menggunakan waktu Tokyo.

                       e.            Bidang Kehidupan Pendidikan

             Perkembangan dunia pendidikan pada masa pendudukan Jepang mengalami kemunduran yang luar biasa, baik untuk jumlah sekolah, siswa, maupun gurunya. Akhirnya, di Indonesia terjadi peningkatan para penyandang buta huruf. Sekolah yang dibuka pada masa pendudukan Jepang, antara lain sebagai berikut.

                                1)  Sekolah Rakyat, 6 tahun.                                        

                                2)  Sekolah Menengah, 3 tahun.                                                

                                3)  Sekolah Menengah Tinggi, 3 tahun.    

                                4)  Sekolah Guru, 2 tahun.

                                5)  Sekolah Guru, 4 tahun.

                                6)  Sekolah Guru, 6 tahun.

                                      Perguruan tinggi yang dibuka adalah sebagai berikut.

                                1)  Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta.

                                2)  Perguruan Tinggi Teknik Bandung.

                                3)  Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan di Bogor.

                                4)  Akademi Pamong Praja di Jakarta.

                                                     Selain sekolah negeri, Jepang juga mengizinkan berdirinya sekolah swasta.

 

 

Soal