Semester 2 Bab 2-Paham-Paham Baru dan Kesadaran Kebangsaan di Asia Afrika

Bab 2

Paham-Paham Baru dan Kesadaran kebangsaan

di Asia Afrika

 

Nilai Pendidikan Karakter

-              Kreatif

-              Cinta tanah air

-              Semangat Kebangsaan

-              Demokrasi

-              Mandiri

 

Apersepsi

 
 

Gambar: suasana pergerakan bangsa Asia Afrika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan pelaksanaan kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Barat ternyata tidak hanya diterapkan di Indonesia saja, melainkan di negara-negara Asia-Afrika lainnya. Kolonia-lisme dan imperialisme akhirnya menimbulkan reaksi bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk melakukan perlawanan. Inspirasi perlawanan tersebut muncul seiring dengan masuknya paham-paham baru dari Eropa, seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, komunisme, serta paham pan Islamisme yang muncul dari cendekiawan muslim Asia-Afrika.

                Pada materi ini,  Anda akan mempelajari definisi dan perkembangan paham-paham baru yang berkembang di Eropa pada abad ke-19 serta dampaknya terhadap kesadaran pergerakan kebangsaan di Indonesia. Untuk lebih jelasnya, marilah kita pelajari materi berikut.

 

Ringkasan Materi

A.            Perkembangan Paham-Paham Baru

1.        Nasionalisme

             Paham nasionalisme berkembang dari Eropa dan sejak abad ke-19 menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

             Nasionalisme diartikan sebagai suatu sikap politik dan sosial dari kelompok suatu bangsa yang memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah serta persamaan cita-cita dan tujuan. Dengan demikian, kelompok tersebut merasakan adanya kesatuan mendalam terhadap kelompok bangsa itu.

      Negara-negara pemula penganut paham nasionalisme adalah Inggris, Jerman, dan Italia. Tokoh-tokoh Asia yang menjadi pelopor paham Nasionalisme antara lain adalah Soekarno dari Indonesia, Jawaharlal Nehru dari India, Dr. Sun Yat Sen dari Cina, dan lain-lain.

2.         Liberalisme

      Liberalisme merupakan paham yang mengutamakan kemerdekaan, terutama kemerdekaan individu. Paham ini berkembang sangat pesat di kota-kota besar Eropa. Pendukungnya adalah kaum Borjuis dan kaum terpelajar kota. Aliran liberalisme tidak memiliki ikatan yang kuat. Peranan kaum Borjuis semakin besar setelah industri dan perdagangannya menjadi mata pencaharian penting.

3.         Planislamisme

      Pan Islamisme adalah suatu paham yang bertujuan untuk mempersatukan umat Islam sedunia. Paham ini dalam bahasa Arabnya disebut dengan Al Jami’ah al Islamiyah yang dicetuskan oleh seorang Afghanistan bernama Jamaluddin al Afgani (1839–1897). Namun, ada yang berpendapat bahwa paham ini telah ada pada diri tokoh perubahan dari Mesir bernama Al-Tahtawi (1801 – 1873). Jamaluddin al Afghani menyaksikan bagaimana bangsa Barat terutama Inggris ikut campur dalam urusan negara-negara Islam. Oleh karena itu, beliau mengajak kaum muslim untuk kembali pada Alquran dan Hadits, juga menyerukan untuk berjuang melawan imperialisme Barat untuk merebut kemerdekaan bangsa dan tanah air.

 

B.            Hubungan Kehidupan Perkotaan dengan Munculnya pergerakan kebangsaan Indonesia

     Kota memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan selalu menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah. Kehidupan dan mentalitas masyarakat kota, biasanya mencari dan menemukan identitas baru, pluralistis (suku, agama, profesi), modern (relative maju dan toleran). Oleh karena itu, kota menjadi tempat yang sangat strategis dalam upaya memunculkan dan mengembangkan pergerakan nasional Indonesia. Dari kota-kota tersebut muncullah golongan-golongan elite baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti golongan terpelajar, golongan profesional, dan golongan pers.

1)  Golongan Terpelajar

             Golongan terpelajar termasuk ke dalam kelompok elite minoritas dari bangsa Indonesia, tetapi kedudukan dan peranannya sangat besar dalam lingkungan masyarakat. Dikatakan minoritas karena di dalam susunan masyarakat jumlahnya relatif kecil apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok di bawahnya. Golongan ini muncul pada kota, khususnya kota-kota besar yang dijadikan pusat dan tempat untuk mengadu nasib, juga merupakan tempat bertemunya ide-ide para pelajar, mahasiswa, sarjana dan pemuda lain dari berbagai daerah dengan adat istiadat yang berbeda-beda.

             Para pemuda pelajar mulai menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghadapi penjajah Belanda. Mereka juga melihat pentingnya perluasan pengajaran bagi kemajuan bangsa seperti yang ditegaskan oleh para pelajar STOVIA di Batavia. Begitu pula di dalam menghadapi kaum kapitalis asing, tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jika para pedagang pribumi bersatu seperti yang dinyatakan oleh pendiri Sarekat Islam, yaitu Haji Samanhudi.

2)  Golongan Profesional

             Golongan profesional lebih banyak muncul dan mengembangkan profesinya pada daerah perkotaan. Pada masa kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda, golongan profesional ini memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di daerah perkotaan. Golongan profesional terdiri atas berbagai profesi seperti profesi guru, dokter, dan sebagainya.

3)  Peranan Pers Indonesia

             Pada abad ke-19, pers masuk ke wilayah Indonesia dan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kota-kota di Indonesia. Wujud perkembangan pers itu dalam bentuk surat kabar ataupun majalah. Munculnya surat kabar dimodali oleh orang-orang Cina dengan menggunakan bahasa Melayu. Derngan demikian, surat kabar yang diterbitkan secara tidak langsung ikut serta di dalam mempopulerkan penggunaan bahasa Melayu. Surat kabar juga memuat isu-isu politik yang sedang berkembang, sehingga secara tidak langsung telah banyak memberikan pendidikan politik pada masyarakat Indonesia. Surat kabar berbahasa Melayu berkembang sejak awal abad ke-20, antara lain sebagai berikut.

a)  Sumatra: Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberita Atjeh, Pertja Barat.

b)  Jawa: Bromantani, Pewarta Soerabaja, Kabar Perniagaan, Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Hampaet, Melayu, Poetera Hindia.

c)   Kalimantan: Pewarta Borneo.

d)  Sulawesi: Pewarta Manado.

             Surat kabar mempunyai fungsi sosial dasar, yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat membentuk opini umum. Akan tetapi, ruang gerak persuratkabaran pada zaman kolonial Belanda dibatasi dan dikontrol ketat. Selain surat kabar yang membawa suara nasionalisme, terbit surat kabar yang merupakan pembawa suara pemerintah kolonial Hindia Belanda, seperti  Pantjaran Warta dan Bentara Hindia di Jakarta, Sinar Matahari di Makassar, dan Medan Priyayi di Bandung.

            

 

 

 

C.            Perkembangan Pergerakan Kebangsaan di Indonesia dan Kawasan lain di Asia Tenggara pada Paruh Pertama Abad ke-20

      1.            Pembentukan Identitas Nasional dan Terbentuknya Nasionalisme Indonesia

                 a.            Identitas Nasional (Kebangsaan)

                          Sejak J.R. Logan menggunakan kata “Indonesia” untuk menyebut penduduk dan wilayah Nusantara (1850), maka istilah “Indonesia” mulai dikenal. Beberapa tokoh penulis Indonesia tidak lagi menggunakan istilah “Hindia Belanda”, melainkan menggunakan istilah “Indonesia”.

                          Dalam perkembangannya istilah Indonesia selanjutnya dijadikan sebagai nama organisasi para mahasiswa di Negeri Belanda, yaitu Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia). Di samping itu, istilah “Indonesia” menjadi populer dan diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia saat ditetapkannya “Sumpah Pemuda”. Dengan Sumpah Pemuda, kata Indonesia telah dijadikan identitas kebangsaan yang diakui oleh setiap suku bangsa di wilayah Indonesia. Selanjutnya, kata “Indonesia” dibukukan kembali melalui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945).

                 b.            Terbentuknya Nasionalisme Indonesia

                 Kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia dapat menimbulkan terbentuknya nasionalisme Indonesia. Ada beberapa faktor terjadinya nasionalisme di Indonesia, seperti berikut.

                           1)            Perkembangan Pendidikan

      Sejak adanya Politik Etis, edukasi atau pendidikan diberikan untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia, di samping itu masyarakat Indonesia yang diberi kesempatan untuk belajar ke negeri Belanda. Di Indonesia juga didirikan lembaga tinggi pendidikan bagi para pribumi, seperti Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA), Sekolah Tinggi Teknik di Bandung, dan Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Sekolah-sekolah tersebut melahirkan sarjana-sarjana yang menjadi motor penggerak dari pergerakan nasional Indonesia.

                           2)            Diskriminasi

      Diskriminasi ini dilaksanakan untuk membedakan antara penguasa dan yang dikuasai. Diskriminasi menimbulkan perbedaan mencolok yang tampak dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.

      Ciri khas masyarakat colonial pada dasarnya terdapat hubungan yang tidak seimbang antara penjajah dan yang terjajah. Ada lima ciri utama yang menjadi dasar hubungan kolonial sebagai berikut.

      a)    Perbedaan warna kulit.

      b)    Kedudukan politik penduduk yang terjajah.

      c)    Ketergantungan ekonomi.

      d)    Rendahnya kesejahteraan social penduduk.

      e)    Kurangnya kontak sosial antara penguasa dan yang dikuasai.

 

      2.             Perkembangan Nasionalisme di Indonesia dengan Perkembangan Nasionalisme di  Asia Tenggara pada Paruh Pertama Abad Ke-20

              Terbentuknya nasionalisme kebangsaan di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan paham-paham baru dari luar wilayah Indonesia. Paham-paham baru yang berkembang di luar wilayah Indonesia pada masa itu seperti paham nasionalisme. Paham nasionalisme ini muncul di beberapa negara di wilayah Asia maupun Afrika, seperti India, Cina, Jepang, Mesir, dan lain sebagainya.

                 a.            Gerakan Nasionalisme di India

             Nasionalisme India ditujukan pada bangsa Inggris. Sebab-sebab timbulnya nasionalisme India adalah sebagai berikut.

                         1)        Perbaikan nasib rakyat oleh pemerintah Inggris setelah pemberontakan Sepoy tidak kunjung datang, sehingga rakyat India-lah yang harus bergerak sendiri.

                         2)        Hanya orang-orang Inggris-lah yang duduk di pemerintahan, sedangkan orang-orang India tidak diperkenankan ikut serta.

                         3)        Kebudayaan Barat yang dipaksakan oleh Inggris, menimbulkan reaksi keras dari rakyat India yang ingin tetap mempertahankan kebudayaan India asli. Kebudayaan Barat dianggap ter-lampau materialistis, padahal kebudayaan India lebih mementingkan kejiwaan dan kerohanian.

                         4)        Munculnya kaum terpelajar yang telah mengenyam pendidikan Barat, mereka telah mengetahui apa itu liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme.

                         5)        Pemberian status dominian Kanada tahun 1867 menimbulkan keinginan bangsa India untuk memperoleh status yang sama.

             Gerakan nasionalisme di India tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di dalam bidang keagamaan (kerohanian). Nasionalisme India bukan hanya gerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan, tetapi juga untuk pembaharuan manusianya.

             Gerakan nasionalisme di India diwujudkan dengan Pemberontakan Sepoy (1857), Gerakan Brahma Samaj, Santiniketan, Gerakan Rama Krisna, Partai Kongres, dan Mahatma Gandhi.

                           1)            Brahma Samaj

      Gerakan ini bertujuan untuk membersihkan kepercayaan umat Hindu dari hal-hal yang mengotori agama dan memberantas keburukan yang ada dalam masyarakat Hindu. Misalnya, upacara Sati harus dihapus sebab dianggap sebagai pembunuhan. Di samping itu, Brahma Samaj melarang adanya perkawinan di bawah umur dan poligami. Tokoh gerakan ini ialah Ram Mohan Roy.

                           2)            Rama Krisna

Rama Krisna adalah aliran yang menghendaki kembali kepada ajaran agama Hindu yang murni. Tokohnya adalah Swami Vivekananda.

                           3)            Santineketan

Gerakan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air, cinta bangsa, dan cinta kebudayaan India. Tokohnya adalah Rabindranath Tagore.

                           4)            Kongres (All Indian National Congres) 1885

Berdirinya Kongres tahun 1885 ini atas inisiatif Allan Octavian Home (seorang Inggris kelahiran Skotlandia) yang simpati terhadap perjuangan rakyat India. Partai Kongres di bawah pimpinan W.C. Bannerji, dalam perkembangannya banyak program dan kegiatannya yang didominasi oleh golongan Hindu. Bahkan, dari pihak Hindu yang ekstrim menyatakan semboyan “India untuk Hindu” (India adalah Hindu). Itulah sebabnya para tokoh Islam yang aspirasi kelompoknya tidak mendapat tempat yang wajar dalam Kongres memisahkan diri. Pada tahun 1907 dalam Kongres sendiri terdapat dua aliran, yakni antara lain:

                                      a)        Aliran Moderat, yang puas dengan tuntutan swaraj atau home rule. Artinya menuntut pemerintahan sendiri dalam lingkungan Kerajaan Inggris. Tokohnya W.C. Bannerji dan Motilal Nehru.

                                      b)        Aliran Ekstrim (radikal) yang menuntut kemerdekaan penuh (purna swaraj) dengan tokohnya Tilak dan Jawaharlal Nehru.

                           5)            Liga Muslim (Muslim League) 1906

      Pada 1906 kelompok muslim keluar dari Kongres dan mendirikan partai tersendiri, yakni Liga Muslim (Muslim League) dengan tokoh-tokohnya Moh. Ali Jinnah, Liquat Ali Khan, dan Aga Khan.

           Tokoh dari India lainnya yang mengembangkan nasionalis India adalah bentuk perlawanan yang dilakukan Mahatma Gandhi dalam berjuang melawan Inggris, antara lain melalui satyagraha (cinta tanah air), ahimsa (tidak membunuh), hartal (pemogokan), dan swadesi (menggunakan produk sendiri). Dengan gerakan ini ternyata mampu meningkatkan perekonomian bangsa India. Sebaliknya, merupakan pukulan bagi ekspor Inggris ke India. Sebagai tanda penghormatan pada swadesi, maka gambar “roda pemintal” tertera pada bendera kebangsaan India yang mulai berkibar pada tanggal 15 Agustus 1947.

                 b.            Gerakan Nasionalisme Cina

                               Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Cina adalah sebagai berikut.

1)        Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchu. Dinasti Manchu yang pernah membawa kejayaan Cina, kemudian menjadi pudar setelah kedua kaisar besar (K’ang Hsi dan Ch’ien Lung) meninggal. Akibatnya, lenyap pula kemakmuran Cina.

2)        Pemerintahan Manchu dianggap kolot dan telah bobrok.

3)        Adanya korupsi dan pemborosan yang merajalela, terutama di kalangan Istana Manchu.

4)               Kekalahan Cina dalam Perang Cina–Jepang I.

5)        Munculnya kaum intelektual Cina. Mereka telah mengenal paham-paham Barat, seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. Dari kaum intelektual inilah kemudian muncul cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Manchu.

                 Gerakan nasionalisme Cina dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen dengan ajarannya San Min Chu I (Tiga Asas Kerakyatan), yakni min t’sen (kebangsaan atau nasionalisme), min tsu (kerakyatan atau demokrasi ), dan min sheng (kesejahteraan atau sosialisme).

                 Dengan asas San Min Chu I, Sun Yat Sen bercita-cita setelah Manchu runtuh akan dibentuk satu pemerintahan pusat yang demokratis. Di samping itu, akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Cina sejajar dengan negara-negara Barat.

                 Pada tanggal 10 Oktober 1911 meletuslah revolusi di Wuchang (Wuchang Day) di bawah pimpinan Li Yuan Hung dan berhasil menggulingkan kekuasaan Manchu. Itulah sebabnya, tanggal 10 Oktober 1911 kemudian dijadikan Hari Kemerdekaan Cina. Dengan Revolusi Cina 1911, berarti runtuhlah kekuasaan Manchu. Selanjutnya, pada tanggal 1 Januari 1912 Sun Yat Sen dipilih sebagai Presiden Cina yang baru. Saat itu, wilayah Cina baru meliputi wilayah Cina Selatan dengan Nanking sebagai ibu kotanya.

                   Sementara itu, Cina Utara diperintah oleh Kaisar Hsuan Tsung (yang masih kanak-kanak) dengan didampingi oleh Yuan Shih Kai menyerahkan kekuasaan kepada rakyat Cina (12 Februari 1912). Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Manchu di Cina. Wilayah Cina Selatan dan Cina Utara berhasil dipersatukan. Yuan Shih Kai yang turut menandatangani penyerahan kekuasaan dan diberi kekuasaan untuk mengaturnya. Ia pun berambisi besar untuk menjadi presiden. Demi tetap tegaknya Republik Cina dan untuk terhindar dari perang saudara, maka Sun Yat Sen mengundurkan diri dari jabatan presiden (15 Februari 1912) dan menyerahkannya kepada Yuan Shih Kai.

                   Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Kanton pada bulan Agustus 1912 dan mendirikan Partai Kuo Min Tang (nasional) dengan asas San Min Chu I. Pada perkembangannya, setelah Yuan Shih Kai menjadi presiden, ia bertindak diktator seperti kaisar. Pada tahun 1916, Yuan Shih Kai meninggal sehingga memberi kesempatan Sun Yat Sen kembali memimpin Cina Selatan. Di Cina Utara kemudian berdiri Partai Kung Chang Tang (komunis) di bawah pimpinan Li Li-san sebagai tandingan Partai Kuo Min Tang. Sun Yat Sen bercita-cita untuk menyatukan seluruh Cina, namun sayang sebelum cita-citanya terwujud dia telah meninggal dunia (1925) dan digantikan oleh Chiang Kai Shek.

                 c.             Gerakan Nasionalisme Jepang

           Gerakan Nasionalisme Jepang dimulai setelah Restorasi Meiji. Restorasi yang dijalankan Meiji di antaranya dalam bidang sosial dengan menghapus sistem feodalisme, mengirimkan para pemuda dan pelajar keluar negeri, terutama ke negara-negara Barat untuk menimba ilmu di sana. Di bidang ekonomi, Jepang membangun sarana dan prasarana ekonomi, seperti membangun industri-industri, jalan-jalan, jaringan transportasi, dan lain sebagainya.

             Bidang militer dengan meniru sistem militer Jerman dan Prancis. Selain melakukan gerakan modernisasi sendiri, baik di dalam maupun ke luar, ternyata Jepang mendatangkan tenaga-tenaga ahli dari Barat untuk membantu pembangunan di Jepang. Karena Jepang memiliki semangat kerja yang tinggi, ulet, dan terampil, maka ilmu orang-orang Barat yang datang tadi dengan cepat dapat dikuasai. Selanjutnya Jepang mengembangkannya sendiri sampai akhirnya menjadi negara imperialis pada Perang Dunia II.

             Keberhasilan bangsa Jepang mengadakan Restorasi dengan memodernisasi diri dan keberhasilan mengusir bangsa Barat dari dalam negeri dapat mendorong bangsa-bangsa Asia untuk berbuat seperti Jepang, khususnya bangsa-bangsa di Asia yang mengalami penjajahan dari bangsa Barat, seperti Indonesia yang dikuasai oleh Belanda.

      d.       Gerakan Nasionalisme Turki

                         Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Turki adalah sebagai berikut.

1)               Kekuasaan Turki Usmani yang semakin merosot.

2)        Adanya pengaruh dari Revolusi Prancis dengan semboyannya liberte, egalite, dan fraternite.

3)               Timbulnya kaum terpelajar yang berpaham modern sehingga mereka mengetahui apa itu liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.

4)        Kegiatan bangsa Barat yang semakin gencar untuk merebut daerah-daerah jajahan Turki dan siap menghancurkan Turki.

              Dalam situasi demikian itulah, akhirnya mendorong timbulnya semangat nasionalisme terutama di kalangan tokoh-tokoh muda untuk mengadakan pembaharuan di segala bidang. Tokohnya antara lain, Kemal Pasha, Midhat Pasha, Rasjid Pasha, dan Ali Pasha.

              Pada tahun 1906, dibawah pimpinan Kemal Pasha berdirilah perkumpulan Tanah Air dan Kemerdekaan, dan pada tahun 1908 tumbuh menjadi Gerakan Turki Muda.

                         Tujuan Gerakan Turki Muda, yaitu sebagai berikut.

1)               Menyelamatkan Turki dari keruntuhan total.

2)               Menanamkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat.

3)               Mengadakan perbaikan sosial, ekonomi dan budaya.

4)               Mengadakan pembaharuan organisasi pemerintahan.

      e.       Gerakan Nasionalisme Filipina

             Gerakan nasionalisme di Filipina meletus dalam bentuk pemberontakan Katipunan terhadap kekuasaan Spanyol. Gerakan nasionalisme ini didorong oleh faktor-faktor sebagai berikut.

1)               Hadirnya kaum terpelajar yang berpendidikan Barat.

2)               Perlakuan yang tidak adil.

3)               Masuknya paham-paham baru ke Filipina.

4)               Pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, Revolusi Cina, dan Turki Muda.

                          Perlawanan dalam menentang kolonialisme Spanyol di Filipina berlangsung di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh terkenal, seperti Jose Rizal, Andreas Bonifacio, dan Emilio Aquinaldo. Dalam hal ini, Jose Rizal memimpin perlawanan terhadap Spanyol melalui organisasi pergerakan yang dikenal dengan nama Liga Filipina. Strategi perjuangannya ditempuh dengan cara-cara radikal, tetapi tetap mengutamakan cara persuasif untuk menyadarkan rakyat dan bangsa Filipina dalam melawan kekuasaan Spanyol. Akibat gerakan yang dilakukannya, Jose Rizal ditangkap dan kemudian dijatuhi hukuman mati pada tanggal 30 Desember 1896.

                          Perlawanan dilanjutkan oleh Andreas Bonifacio dan Emilio Aquinaldo. Tahun 1897 di bawah pimpinan Andres Bonifacio dirikan gerakan radikal dengan nama Katipunan Ng Mga Anak ng Bayan, yang artinya gerakan persatuan anak rakyat. Selanjutnya gerakan tersebut dipimpin oleh Emilio Aquinaldo yang dikenal sebagai seorang pejuang radikal dalam meneruskan pemberontakan Katipunan Jose Rizal. Ketika Spanyol dihadapkan pada perang melawan Amerika Serikat dalam perebutan daerah di sekitar Laut Karibia, maka Emilio Aquinaldo memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memproklamirkan kemerdekaan Filipina pada tanggal 12 Juni 1898.

                        Setelah memproklamirkan kemerdekaan Filipina, Emilio Aquinaldo ditangkap oleh Amerika. Dengan demikian, setelah lepas dari Spanyol Filipina jatuh ke tangan Amerika (1898). Perjuangan menentang kolonialisme di Filipina terus dikobarkan dan pada tahun 1919 Filipina menuntut kemerdekaan penuh, tetapi ditolak oleh Amerika dengan alasan Filipina belum saatnya untuk merdeka. Amerika hanya memberikan status Commonwealth kepada bangsa Filipina pada tahun 1943. Sepuluh tahun kemudian, Filipina diberi kemerdekaan oleh Amerika dengan hari yang sama dengan hari kemerdekaan Amerika, yaitu tanggal 4 Juli 1946.  

 

D.            Pertumbuhan dan Perkembangan Ideologi serta Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia

             1.         Budi utomo

             Budi Utomo didirikan oleh para mahasiswa STOVIA di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 yang dipelopori oleh dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.  Budi Utomo menjadi awal kebangkitan Pergerakan Nasional Indonesia

             Sejak tahun 1915 kegiatan Budi Utomo berubah tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, tetapi bergerak dalam bidang politik. Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik adalah sebagai berikut.

                         a.    Ikut duduk dalam Komite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) dari Indonesia.

                         b.  Ikut mengusulkan dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad).

                         c.   Tokoh Indonesia yang ikut duduk dalam Volksraad, yaitu S. Suryokusuma.

                         d.  Merencanakan program politik untuk mewujudkan pemerintahan parlemen berdasarkan kebangsaan.

                         e.  Ikut bergabung ke dalam Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang diprakarsai oleh Bung Karno pada tahun 1927.

                        f.   Bergabung dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) tahun 1935.

                               Budi Utomo memiliki tujuan, asas, dan keanggotan sebagai berikut.

             2.         Sarikat Islam

             Sarikat Islam pada awalnya merupakan sebuah perkumpulan yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dirikan pada tahun 1911 di kota Solo oleh H. Samanhudi. Sebenarnya perkumpulan tersebut sudah ada sejak tahun 1909 di bawah pimpinan R.M. Tirtaadisurya yang beranggotakan para pedagang Islam. Perkumpulan ini bersifat kooperatif dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam, agama yang terbesar dalam masyarakat Indonesia.

                   Atas usulan H. Oemar Said Cokroaminoto, tahun 1912 nama SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam). Dengan adanya perubahan ini ternyata keanggotaan SI semakin luas. Anggotanya tidak hanya terbatas pada pedagang Islam saja, melainkan seluruh umat Islam dari segala lapisan.

                   Perkembangan pesat dalam tubuh Sarekat Islam terjadi ketika dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto. Dalam pidatonya dia menegaskan bahwa tujuan SI adalah mempertahankan dan memperkuat basis ekonomi kaum pribumi agar mampu bersaing dan membebaskan ketergantungan ekonomi dari bangsa lain.Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Serikat Islam cepat berkembang adalah sebagai berikut.

a.          Kesadaran sebagai bangsa yang mulai tumbuh.

b.          Sifatnya kerakyatan.

c.          Didasari agama Islam.

d.          Persaingan dalam perdagangan.

e.         Digerakkan para ulama.

                   Mengingat perkembangan SI yang begitu pesat maka timbullah kekhawatiran dari pihak Gubernur Jenderal Indenberg sehingga permohonan SI sebagai organisasi nasional yang berbadan hukum ditolak dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal. Pada tahun 1914 telah berdiri 56 SI lokal yang diakui sebagai badan hukum.

                   Sifat SI yang demokratis dan berani serta berjuang terhadap kapitalisme untuk kepentingan rakyat kecil sangat menarik perhatian kaum sosialis kiri yang tergabung dalam Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) pimpinan Sneevliet (Belanda), Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin (Indonesia). Itulah sebabnya, dalam perkembangannya SI pecah menjadi dua kelompok berikut ini.

                                a.   Kelompok nasionalis religius (nasionalis keagamaan) yang dikenal dengan SI Putih dengan asas perjuangan Islam di bawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto.

                                b.  Kelompok ekonomi dogmatis yang dikenal dengan nama SI Merah dengan haluan sosialis kiri di bawah pimpinan Semaun dan Darsono.

3.   Partai Nasional Indonesia (PNI)

            Pada tanggal 4 Juli 1927 beberapa tokoh nasionalis mengadakan pertemuan di Bandung untuk mendukung berdirinya Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Tujuan dari organisasi ini adalah mencapai Indonesia merdeka. Dalam pertemuan tersebut juga diputuskan bahwa Soekarno ditunjuk sebagai ketua.

             Keradikalan PNI telah tampak sejak awal berdirinya. Hal ini terlihat dari anggaran dasarnya bahwa tujuan PNI adalah Indonesia merdeka dengan strategi perjuangannya nonkooperatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka PNI berasaskan pada self help, yakni prinsip menolong diri sendiri, artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang telah rusak oleh penjajah dengan kekuatan sendiri; nonkooperatif, yakni tidak mengadakan kerja sama dengan pemerintah Belanda; Marhaenisme, yakni mengentaskan massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.

             Dengan munculnya isu bahwa PNI pada awal tahun 1930 akan mengadakan pemberontakan, maka pada tanggal 29 Desember 1929 pemerintah Hindia Belanda mengadakan penggeledahan secara besar-besaran dan menangkap empat pemimpinnya, yaitu Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangunprojo, dan Supriadinata. Mereka kemudian diajukan ke pengadilan di Bandung.

 

4.   Indische partij (halaman 34)

             Indische Partij (IP) merupakan organisasi politik pertama. Organisasi ini secara terang-terangan menyatakan sebagai organisasi politik dan secara tegas menyatakan bahwa dia berjuang untuk melepaskan diri dari penjajahan.

             Organisasi IP didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912, dengan tokoh-tokoh pendirinya yaitu Douwes Dekker (yang terkenal dengan nama Danudirjo Setyabudi), dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketiga tokoh ini sering disebut dengan nama Tiga Serangkai.

      Adapun tujuan didirikannya IP antara lain sebagai berikut.

a.   Mempersatukan seluruh bangsa Indonesia.

b.  Mencapai Indonesia merdeka.

             Dari anggaran dasar Indische Partij dapat disimpulkan bahwa tujuannya adalah untuk membangun lapangan hidup dan menganjurkan kerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia Belanda dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme sejak tanggal 4 Maret 1913. Indische Partij dianggap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah kolonial Belanda.

      Kecaman paling keras dari ketiga tokoh Indische Partij adalah dengan menuliskan Als ik een Nederlander was, artinya "Andaikan aku seorang Belanda", dalam menentang pemerintah Belanda. Pada tahun 1913 ketiga tokoh Indische Partij diasingkan ke negeri Belanda. Pada tahun 1914, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dikembalikan ke Indonesia karena sakit dan tahun 1919 Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat pulang ke Indonesia.

5.         Gerakan wanita (halaman 33)

             Pelopor gerakan wanita Indonesia adalah R.A. Kartini, putri Bupati Jepara Aryo Sosroningrat. Beliau lahir 21 April 1897 yang karena jasanya kemudian kelahirannya diperingati sebagai Hari Kartini. Cita-cita beliau adalah memperbaiki derajat kaum wanita melalui pendidikan dan pengajaran.

             Selain Kartini, di Jawa Barat muncul tokoh wanita bernama Dewi Sartika yang juga hendak meningkatkan derajat kaum wanita. Perjuangan R.A. Kartini dan Dewi Sartika inilah yang kemudian mengilhami lahirnya organisasi-organisasi wanita di Indonesia, seperti berikut.

 

E.            Manifesto Politik Pergerakan Nasional Indonesia (halaman 34)

                1.        Partai Indonesia Raya (Parindra)

             Partai ini didirikan oleh dr. Sutomo tahun 1935. Parindra adalah partai peleburan antara Budi Utomo dan PBI. Tujuan Parindra adalah mencapai Indonesia Raya yang mulia dan sempurna. Karena bersifat kooperatif, maka Parindra mempunyai wakil-wakil di Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). Tokoh Parindra yang duduk di Volksraad ialah Moh. Husni Tamrin, R. Sukardjo Pranoto, R.P. Suroso, Wiryoningrat, dan Mr. Susanto Tirtoprodjo.

                2.        Gerakan Rakyat Indonesia (halaman 35)

             Gerindo berdiri di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937 sebagai akibat bubarnya Partindo. Adapun yang menjabat sebagai ketuanya adalah Adnan Kapau Ghani (A. K. Ghani). Adapun anggota Gerindo di antaranya adalah anggota-anggota Partindo, yaitu Mr. Moh Yamin, Mr. Amir Syarifudin, Mr. Sartono, S. Mangunsarkoro, Mr.Wilopo, dan Nyonopranoto. Tujuan Gerindo adalah tercapainya Indonesia merdeka. Sikap Gerindo, yaitu kooperatif.

Soal