Semester 2 Bab 4-Karya Sastra

BAB IV

KARYA SASTRA

 

 Drama adalah suatu karangan yang disusun dalam bentuk percakapan dan dapat dipentaskan. Unsur yang dibutuhkan dalam pementasan sebuah drama adalah naskah drama. Naskah drama merupakan karangan yang berisi cerita, yaitu memuat nama tokoh-tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan tokoh, dan keadaan panggung yang diperlukan.

 

A.  Mendengarkan

Menyimpulkan isi drama melalui pembacaan teks drama

Sebuah drama, sebagaimana karya sastra lainnya, diciptakan dengan maksud menyampaikan sesuatu kepada penikmat sastra atau masyarakat. Sesuatu itu di samping menghibur, pastilah memiliki manfaat. Sesuatu itulah isi drama. Inti dari isi sebuah drama sebenarnya adalah pesan/amanat yang hendak disampaikan. Jika Anda telah menangkap pesan-pesan sebuah drama, maka Anda sebenarnya telah memahami isinya.

Dengarkan teman Anda membacakan teks drama berikut!

Perhatikan teks drama berikut!

 

Majalah Dinding

 

(Pelaku : Anton, Kardi, Rini, Trisno, Wilar)

Pentas menggambarkan sebuah ruang kelas waktu pagi hari. Tampak di sana beberapa meja dan kursi, kurang begitu teratur. Beberapa papan majalah dinding tersandar di dinding dan di meja. Seorang siswa sedang duduk-duduk di atas meja. Ia bersilang tangan. Siswa itu namanya Anton. Ia adalah pemimpin redaksi majalah dinding itu, sedangkan Rini, sekretaris redaksi, duduk di kursi.

Waktu itu hari Minggu, Anton tampak kusut. Wajahnya muram. Ia belum mandi, hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Ia terburu-buru ke sekolah karena mendengar berita dari Wilar, wakil pemimpin redaksi sekolah, bahwa majalah dinding itu dibredel oleh kepala sekolah gara-gara Trisno mengejek Pak Kusno, guru karate.

Seorang pelajar lainnya, Kardi, sedang menekuni buku. Ia adalah eseis yang tulisan-tulisannya mulai dikenal lewat majalah dinding itu.

Anton          :    Kardi!

Kardi           :    Ya!

Anton          :    Kau ada waktu nanti sore?

Kardi           :    Ada apa, sih?

Anton          :    Aku perlu bantuanmu untuk menyusun surat protes itu.

Rini              :    Kurasa tak ada gunanya kita protes. Kita sudah kalah. Bagi kita, kepala sekolah bukan guru lagi, bukan pendidik. Ia berlagak penguasa.

Kardi           :    Itu tafsiranmu, Rin. Menurut dia, tindakannya itu mendidik.

Anton          :    Mendidik, tetapi mendidik pemberontak. Bukan mendidik anak-anaknya sendiri. Gila!

Kardi           :    Masa begitu?

Anton          :    Kalau mendidik anaknya sendiri ‘kan bukan begitu caranya.

Kardi           :    Tentu saja tidak. Ia bertindak dengan caranya.

Rini              :    Sudahlah, kalau Anda menurut aku, sebaiknya kita protes diam. Kita mogok. Nanti, kalau sekolah kita tutup tahun, kita semua diam. Mau apa Pak Kepala Sekolah itu kalau kita diam? Tenaga inti masuk staf redaksi semua!

Anton          :    Tapi masih ada satu bahaya.

Rini              :    Bahaya?

Kardi           :    Nasib Trisno, karikaturis kita itu?

Anton          :    Bisa jadi dia akan celaka.

Rini              :    Lalu?

Anton          :    Kita harus selesaikan masalah ini.

Rini              :    Caranya?

Anton          :    Kita harus buka front terbuka.

Kardi           :    Itu nggak taktis, Bung!

Anton          :    Habis, kalau kita main gerilya, kita kalah.

Kardi           :    Baik, tetapi front terbuka juga berbahaya.

Rini              :    Orang luar bisa tahu. Sekolah cemar.

Kardi           :    Betul!

Anton          :    Apakah sudah tidak ada jalan keluar lagi? Kita mati kutu.

Kardi           :    Ada, tapi jangan grusa-grusu. Kita harus ingat, ini bukan perlawanan melawan musuh. Kita berhadapan dengan orang tua kita sendiri. Jadi, jangan asal membakar rumah, kalau marah.

Anton          :    Baik, filsuf? Apa rencanamu?

Trisno masuk. Napasnya terengah-engah. Peluhnya berleleran.

Rini              :    Kau dari mana, Tris?

Anton          :    Dari rumah Pak Kepala Sekolah?

Kardi           :    Dari rumah Pak Kepala Sekolah lalu dimarahi?

Trisno          :    Huuuu.... Disemprot ludah pagi hari, bacin!

Rini              :    Ngapain ke sana? Kan tidak dipanggil.

Anton          :    Haah! Individualismemu itu mbok dikurangi.

Kardi           :    Kau selalu begitu setiap kali.

Trisno          :    Anda itu yang goblok kabeh.

Anton          :    Lho!

Rini              :    Aku goblok? Secantik ini goblok?

Trisno          :    Belum tahu kalau disemprot.

Kardi           :    Pak Kepala itu ke rumahmu?

Trisno          :    Iya. Terus aku mau rembukan gimana sama Anda. Belum bernapas sudah dicekik.

Rini              :    Ibumu tahu?

Trisno          :    Untung mereka sedang pergi.

Anton          :    Terus?

Trisno          :    Pokoknya aku didesak, ide itu ide siapa. Sudah dapat izin dari kamu apa belum?

Anton          :    Jawabanmu?

Trisno          :    Aku bilang itu ide... itu ide....

Anton          :    Ide Anton?

Trisno          :    Ide Albertus Sutrisno sang pelukis. Dengar?

Rini              :    Tapi kau bilang sudah ada persetujuan dari pimpinan redaksi?

Trisno          :    Tidak, Rin. Kulindungi kekasihmu yang belum mandi ini.

Anton          :    Kau bilang apa pada kepala sekolah itu?

Trisno          :    Aku bilang bahwa tanpa sepengetahuan Anton, aku pasang karikatur itu. Sepenuhnya tanggung jawab saya. Dengar?

Kardi           :    Edaaaaannn. Pahlawan tenan iki.

Rini              :    Oooooo, hebat kau, Tris! Berbahagialah Yayuk yang punya kekasih macam kau!

Trisno          :    Ah, Rin, mbok nggak gitu. Nanti aku nggak bisa tidur kalau bilang Yayuk pacarku.

Anton          :    Kenapa kau bilang begitu, menghina aku, Tris? Aku yang suruh kau melukis itu. Aku penanggung jawabnya. Akulah yang mesti diundang... bukan kau!

Kardi           :    Lho, sabar-sabar, sabaaarrr!

Anton          :    Ayo, kau mesti ralat pernyataan itu!

Kardi           :    Begini, Ton, maksudku agar kau ....

Anton          :    Tidak, aku tidak butuh perlindunganmu. Aku mesti digantung, bukan kau!”

Kardi           :    Begini, Ton. Maksudku, bahwa aku telah....

Anton          :    Sudah! Aku tahu, kau berlagak pahlawan agar orang-orang menaruh perhatian kepadamu sehingga dengan demikian kau ....

Rini              :    Anton, sabaaaarr. Kau mau bunuh diri apa bagaimana? Masalah sedang gawat malah bertengkar sendiri.

Anton          :    (membisu)

Kardi           :    (membisu)

Rini              :    (membisu)

Trisno          :    Maaf, Ton. Aku tidak hendak berlagak pahlawan. Aku sekadar ingin bertanggung jawab. Aku tak tega kalau kau... kau... di....

Anton          :    (membisu)

Trisno          :    Dimarahi atau dikeluarkan.

Rini              :    (membisu)

Trisno          :    Tetapi kau menolak pernyataan setia kawanku dengan kau. Sudahlah. Mungkin... kita memang tidak harus selalu satu ide.

Anton          :    Tris... Tris... Trisno... Trisno!

Kardi           :    Biar saja dia pergi. Kau mau apakan dia?

Rini              :    Tapi dia bisa memihak Kepala Sekolah.

Kardi           :    Ah, nggak. Biar saja dia pergi.

Anton          :    Maaf, Di.

Kardi           :    Aku ngerti, kenapa kau tersinggung, tetapi dalam keadaan gawat, kita tak boleh mengutamakan emosi, demi persatuan kita.

Rini              :    Kau absurd! (keluar)

Anton          :    Rin... Rini....

Kardi           :    Nah, gimana kalau begini?

Anton          :    (membisu)

Kardi           :    Bagaimana?

Anton          :    Pergi!

Kardi           :    (terbengong)

Anton          :    Pergi sana kau. Pergi!

Kardi           :    (keluar)

Anton          :    (diam sendiri, berjalan hilir mudik)

Rini              :    (masuk) Ton!

Anton          :    Pergi!

Rini              :    Ton!

Anton          :    Pergi!

Rini              :    (membisu)

Wilar            :    (masuk)

Rini              :    Gimana? Pak Lukas mau?

Anton          :    Kau ketemu dia, pagi ini?

Wilar            :    Dia mau.

Anton          :    Mau?

Rini              :    Mau?

Wilar            :    Jelas. Malah dia bilang begitu begini. Aku wakil kelas Anda. Aku ikut bertanggung jawab atas perbuatan Anda terhadap Pak Kusno, tapi Anda tidak boleh bertindak sendiri. Diam saja. Aku yang akan maju ke Bapak Kepala Sekolah. Aku akan menjelaskan bahwa Pak Kusno memang kurang beres. Tapi kalau Anda berbuat dan bertindak sendiri-sendiri, main corat-coret, atau membikin onar, Anda akan kulaporkan pada polisi.

Rini              :    Pak Lukas memang guru sejati. Mau melibatkan diri dengan problem anak-anaknya. Dia sungguh seperti bapakku sendiri.

Anton          :    Dia seorang bapak yang melindungi, sifatnya lembut seperti seorang ibu....

Trisno          :    Bagaimana kalau kita juluki Pak Lukas Sang Penyelamat....

Semua         :    Setujuuuuuuuuuuuuu!

Rini              :    Ada apa, filsuf?

Kardi           :    Sekarang sampailah kesimpulan tentang renungan-renunganku selama ini.

Anton          :    Waaa, kumat dia!

Rini              :    Renungan apa, Di?

Trisno          :    Renungan apa lagi?

Kardi           :    Renungan bahwa kreativitas ternyata... ternyata membutuhkan perlindungan.

Oleh : Bakdi Soemanto

Dikutip dari: Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPA/IPS

 

 

B.  Berbicara

Menjelaskan keterkaitan gurindam dengan kehidupan sehari-hari

Gurindam isinya penuh dengan makna kehidupan. Isinya banyak memberikan tuntunan dalam hidup beragama dan bersosial. Oleh karena itu, nilai-nilainya sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Contoh:

 

Barang siapa berbuat fitnah

Ibarat dirinya menentang panah

 

Barang siapa meninggalkan zakat

Tiadalah artinya boleh berkat

 

Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Dikutip dari: Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPA/IPS

 

 C.  Membaca

Menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode

Pada setiap periode telah lahir karya-karya sastra terbaik yang mempunyai ciri dan karakter yang berbeda. Sebagai bangsa Indonesia kita patut bangga, banyak bangsa kita yang kreatif dan eksis menulis berbagai karya sastra sehingga kalau menilik perkembangannya, kita mengenal beberapa angkatan yakni Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 1953 – 1961, Angkatan 66, dan Angkatan 1970 – 1980-an, dan Angkatan 1980-an, Angkatan 2000 sampai sekarang. Karya sastra yang lahir pada setiap periode menunjukkan karakteristik yang berbeda.

Pembagian ini ada yang menyebutnya angkatan dan ada pula yang menyebutnya dengan periodisasi. Ayip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra (1991: 11-12) menyatakannya dengan istilah periodisasi sastra, yakni:

  1. Masa Kelahiran atau Masa Penjadian (kurang lebih 1900—1945), dibagi menjadi:

a. Periode awal hingga 1933;

b. Periode 1933 – 1942;

c. Periode 1942 – 1945.

     2. Masa Perkembangan (1945 sampai sekarang) yang dibagi menjadi:

a. Periode 1945 – 1953;

b. Periode 1953 – 1961;

c. Periode 1961 – sekarang.

 

Untuk memahami karakteristik tema dan nilai-nilai yang terkandung pada setiap periode atau angkatan, kamu harus tahu dahulu karya sastra apa saja yang lahir pada setiap periode atau angkatan tersebut. Untuk itu, kamu bacalah buku-buku perkembangan sastra dan pilih satu karya sastra yang akan kamu analisis!

Sebagai bahan kajian dan gambaran tentang karya sastra yang lahir pada setiap periode. Perhatikan uraian berikut ini.

  1. Periode 1900-1933

Pada periode ini, Tirto Adhisurjo (1875 – 1916) menulis dua buah cerita roman , masing-masing berjudul Busono (1910) dan Nyai Permana (1912). Mas Marco Martodikromo dari tangannya terbit beberapa buah buku di antaranya berjudul Mata Gelap (1914), Studen Hijau (1919), Syair Rempah-rempah (1919) , dan Rasa Merdeka (1924).

Ardiwinata(1866 – 1947) berjudul Baruang Ka Nu Ngarora (Racuan Bagi Para Muda). Pada tahun 1918 terbit Cerita Si Jamin dan Si Johan yang disadur Merari Siregar dari Jan Smees karangan van Maurik. Dua tahun kemudian terbitlah roman dalam bahasa Indonesia yang pertama oleh Balai Pustaka, karangan Merari Siregar juga berjudul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis (1920). Dua tahun kemudian terbitlah roman Marah Rusli berjudul Sitti Nurbaya (1922) kemudian disusul oleh Muda Teruna (1922) karangan Muhammad Kasim.

Selain itu, telah lahir sajak-sajak Muhammad Yamin yang berjudul “Tanah Air“. Pada tahun 1928, Yamin menerbitkan kumpulan sajaknya yang berjudul Indonesia Tumpah Darahku. Muhammad Yamin juga menulis drama yang berlatar belakang sejarah, di antaranya Ken Angrok dan Ken Dedes (1934) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932).

Roestam Effendi menulis dua buah buku, yang pertama berjudul Bebasari (1924) dan yang kedua berjudul Percikan Permenungan (1926). Bebasari ialah sebuah drama bersajak. Di dalamnya dikisahkan tentang perjuangan seorang pemuda yang membebaskan kekasihnya dari cengkeraman keserakahan raksasa. Sajak yang kedua berjudul Bukan Beta Bijak Berperi . Pada angkatan Balai Pustaka lahir roman Azab dan Sengsara buah tangan Merari Siregar, Muda Teruna buah tangan M. Kasim (lahir tahun 1886) yang terbit (1992), Roman buah tangan Marah Rusli yang berjudul Sitti Nurbaya juga terbit tahun 1992. Adinegoro nama samaran Djamaluddin (1904 – 1966) ia menulis dua buah roman berjudul Darah Muda (1927), dan Asmara Jaya (1928). Roman yang lain terbitan Balai Pustaka pada tahun dua puluhan, Misalnya dalam roman berjudul Karam dalam Gelombang Percintaan (1926) buah tangan Kedjota Pertemuan (1927) buah tangan ‘Abas Soetan Pamoentjak Salah Pilih (1928) karangan Nur Sutan Iskandar, Cinta yang Membawa Maut (1926) karangan Abd. Ager dan Nursimah Iskandar. Roman–roman Jeumpa Aceh (1928) buah tangan H.M. Zainuddin, Tak Disangka (1929) karangan Tulis Sutan Sati, Tak Putus Dirundung Malang (1929) karangan Sutan Takdir Alisjahbana. Roman yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun dua puluhan ialah Salah Asuhan (1928) buah tangan Abdul Muis (1886–1959). Sanusi Pane (1905–1968) menulis bukunya yang pertama berupa kumpulan prosa lirik berjudul Pancaran Cinta (1926), kemudian disusul oleh kumpulan sajak Puspa Mega (1927), Soneta Puspa Mega karya Sanusi Pane (1927). Kumpulan sajak yang terakhir Madah Kelana (1931).

Pada periode ini para pengarangnya masih menggunakan bentuk-bentuk puisi lama. Puisi barat mulai digunakan oleh para penyair di antaranya Muh.Yamin. Bentuk roman yang paling dominan adat lama misalnya kawin paksa.

 

2. Periode 1933-1942

Pada periode ini terkenal dengan lahirnya majalah Poedjangga Baroe. Sekitar tahun 1920 dikenal majalah di antaranya majalah Sri Poestaka (1919-1941), Pandji Poestaka (1919-1942), Jong Sumatra (1920-1926) yang memuat karangan-karangan berupa cerita, sajak, serta karangan-karangan tentang sastra.

Tokoh-tokoh Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Alisjahbana, Armjn Pane, Amir Hamzah yang dikenal dengan sebutan ”Tiga Serangkai/Tiga A). Tokoh lain yang banyak menulis pada periode ini di antaranya adalah Y.E. Tatengkeng dan Asmara Hadi.

Sutan Takdir Alisjahbana menulis roman berjudul Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Layar Terkembang (1936), Grotta Azzurra (Gua Biru) tahun 1960. Roman Layar Terkembang menjadi roman terpenting pada Angkatan Pujangga Baru.

Armijn Pane menulis cerpen yang berjudul Barang Tiada Berharga dan sandiwaranya berjudul Lukisan Masa merupakan prototipe untuk romannya yang berjudul Belenggu. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dengan judul Kisah Antara Manusia (1953), dan sandiwaranya dikumpulkan dengan judul Jinak-jinak Merpati.

Amir Hamzah menuangkan pengalamannya ke dalam puisi yang menjadi sekumpulan puisi yang berjudul Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941). Ketiga sastrawan tersebut menjadi pelopor Angkatan Pujangga Baru.

 

3. Periode 1942-1945

Pada periode ini muncul penyair, yang terpenting adalah Usmar Ismail, Amal Hamzah, dan Rosihan Anwar. Karya-karya terkenal pada periode ini adalah cerpen yang disusun Usmar dan dimuat dalam Pancaran Cinta (1946) dan Gema Tanah Air yang disusun H.B. Yassin. Sajak-sajak usmar Ismail dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Puntung Berasap (1949). Tiga buah drama yang berjudul ”Api,” ”Liburan Seniman,” dan ”Citra” diterbitkan dalam satu buku berjudul Sedih dan Gembira (1949).

Amal Hamzah menerjemahkan Gitanyali (1947) karya Rabindranath Tagore yang mendapat hadiah nobel. Sajak dan karangan lainnya diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Pembebasan Pertama (1949). Rosihan Anwar menulis cerpen berjudul ”Radio Masyarakat”. Pada tahun 1967, beliau menerbitkan sebuah roman berjudul Raja Kecil, Bajak Laut di Selat Malaka.

Karya-karya yang ditulis pada masa ini bersifat realitas dan kritis. Karya sastranya memerhatikan corak baru yang amat berbeda dengan angkatan-angkatan yang telah dilaluinya. Periode ini dikatakan sebagai sastra peralihan dari alam romantis dan alam idealis menjadi alam realistis dan kritis.

 

4. Periode 1945-1953

Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin dikenal sebagai pelopor Angkatan 45. Munculnya Chairil Anwar memberikan sesuatu yang baru. Sajak-sajaknya bernilai tinggi, bahasa yang digunakannya hidup dan berjiwa. Buku kumpulan sajak Chairil Anwar adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Luput (1949), Deru Campur Dbu (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950).

Asrul Sani menulis sajaknya yang berjudul ”Mantera” dan ”Surat dari Ibu” menunjukkan pandangan hidupnya yang moralis. Rivai Apin tidak menerbitkan kumpulan sajak sendiri, tetapi karyanya ada dalam kumpulan sajak Tiga Menguak Takdir.

Banyak sastrawan yang terkenal pada masa, ini di antaranya: Idrus, Achdiat K. Mihardja, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang, Aoh K. Mihardja, M. Balfas dan Rusman Sutisumarga, Trisno Sumardjo, MH. Rustandi Kartakusuma, dan pengarang wanita seperti Ida Nasution, Waluyati, S.Rukiah, St. Nuraini, dan Suwarsih Djojopuspito.

Bentuk karya pada periode ini menunjukkan adanya pembaharuan. Tema dan bentuknya agak bebas dibandingkan dengan karya angkatan sebelumnya. Isinya bercorak realistis, bentuk harus tunduk kepada isi; isi yang lebih dipentingkan bukan kulitnya (bahasa).

 

5. Periode 1953-1961

Para sastrawan yang terkenal pada periode ini di ataranya: Nugroho Notosusanto, M. Hussyn Umar, Toto S. Bachtiar, W.S. Rendra, Nh. Dini, Subagio Sastrowardojo, Trisnoyuwono, S.M. Ardan, Rijono Pratiko, A.A. Navis, Sukanto S.A., Iwan Simatupang, Motinggo Boesje, Kirdjomulyjo, Ramadhan K.H., Basuki Goenawan, dan yang lainnya.

Banyak karya-karya terkenal dan mendapat penghargaan. Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, Pulang karya Toha Mohtar, kumpulan sajak Simphoni karya Subagio Sastrowardojo, Malam Jahanam karya Motinggo Boesje. Para penyair terkenal seperti Toto Sudarto Bachtiar dengan sajaknya ”Pahlawan tak Dikenal”, Rendra dengan kumpulan sajaknya Balada Orang-orang Tercinta, dan yang lainnya.

Pusat kegiatan sastra telah meluas ke seluruh pelosok Indonesia tidak hanya terpusat di Jakarta atau Yogyakarta. Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra nasional Indonesia. Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan kepada kekuasaan asing, tetapi kepada peleburan antara ilmu dengan pengetahuan asing dengan berdasarkan kepada perasaan dan ukuran nasional.

 

6. Periode 1961-sekarang

Pada periode ini, muncul sajak-sajak perlawanan terhadap tirani, di antaranya tampak dalam sajak Taufik Ismail dengan sajaknya Tirani dan Benteng, Perlawanan karya Mansur Samin, Mereka Telah Bangkit karya Bur Rasuanto, Pembebasan karya Abdul Wahid Situmeang. Banyak pengarang lain yang terkenal seperti B Soelarto dengan karya Domba-domba Revolusi, A. Bastari Asnin dengan karyanya Di Tengah Padang dan Lakilaki Berkuda, Satyagraha Hoerip Soeprobo dengan romannya Sepasang Suami Isteri, Gerson Poyk dengan romannya Hari-hari Pertama. Begitu pula dengan para penyairnya seperti Goenawan Mohamad dengan sajaknya Senja Pun Jadi Kecil, Kota Pun Jadi Putih, Saini K.M. dengan kumpulan sajaknya Nyanyian Tanah Air, Sapardi Djoko Damono dengan karyanya Duka-Mu Abadi. Pengarang wanitanya Titi Said denga bukunya Perjuangan dan Hati Perempuan, S. Tjahjaningsih dengan kumpulan cerpennya Dua Kerinduan, Enny Sumargo dengan romannya berjudul Sekeping Hati Perempuan, Susy Aminah Aziz dengan kumpulan sajaknya Seraut Wajahku, Isma Sawitri dengan kumpulan sajaknya berjudul Kwatrin, dan banyak yang lainnya. Setelah itu, bermunculan penyair-penyair muda seperti Soni Farid Maulana, Matdon, dan yang lainnya. Soni Farid Maulana menulis puisinya yang dikumpulkan dalam buku yang berjudul Anak Kabut, Matdon dalam bukunya Garis Langit.

Periodisasi sastra Indonesia menurut Ayip Rosidi sampai pada periode 1961-sekarang. Pada kenyataannya periodisasi sastra akan terus berkembang selama karya sastra diciptakan oleh sastrawan-sastrawan Indonesia. Meneruskan periodisasi sastra oleh Ayip Rosidi di depan, pada periodisasi tahun 1973, Sutardji Calzoum Bachri menyusun “Kredo Puisi”- nya kemudian tahun 1977 muncul istilah “Angkatan 70”; Istilah ini berasal dari Dami N. Toda. Pada tahun 80-an novel-novel Pramoedya Ananta Toer diterbitkan antara lain novel Bumi Manusia Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Gadis Pantai, dan semua novel ini kemudian dilarang pemerintah RI. Pada tahun 1992 novel Para Priyayi karya Umar Kayam terbit dan pada tahun 1998 muncul novel Saman karya Ayu Utami. Tahun 1999 novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer terbit, diikuti novel Larasati serta drama Mangir pada tahun 2000. Pada Oktober 2000 muncul istilah “Angkatan 2000”, isitlah ini berasal dari Korrie Layun Rampan Tahun 2000 juga memunculkan karya-karya bertema reformasi yang terjadi di Indonesia tahun 1998, misalnya kumpulan sajak Ayat-ayat Api karya (Sapardi Djoko Damono).

Dikutip dari: Bahasa Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPA/IPS

 

Periodisasi Sastra Menurut H.B. Jassin

  1. Sastra Melayu Lama
  2. Sastra Melayu Modern

a. Angkatan 20

b. Angkatan 33 atau Pujangga Baru

c. Angkatan 45

d. Angkatan 66

 

Periodisasi Sastra Menurut J.S. Badudu

  1. Kesusastraan Lama dengan Angkatan Lama

a. Kesusastraan Masa Purba

b. Kesusastraan Masa Hindu-Arab

 

2.  Kesusastraan Peralihan dengan Angkatan Peralihan

a. Abdullah bin Abdulkadir Munsji

b. Angkatan Balai Pustaka

3.  Kesusastraan Baru dengan Angkatan Baru

a. Angkatan Pujangga Baru

b. Angkatan Modern (Angkatan ‘45)

c. Angkatan Muda

 

Periodisasi Sastra Menurut Nugroho Notosusanto

  1. Sastra Melayu Lama
  2. Sastra Melayu Modern

a.  Masa Kebangkitan

1)   Masa Kebangkitan

2)   Periode 20

3)   Periode 33

4)   Periode 42

b.  Masa Perkembangan

1)   Periode 45

2)   Periode 50

 

Periodisasi Sastra Menurut Simorangkir-Simanjuntak

  1. Kesusastraan Masa Lama atau Purba
  2. Kesusastraan Masa Hindu/Arab
  3. Kesusastraan Masa Baru
  4. Kesusastraan Masa Mutakhir

 

Periodisasi Sastra Menurut Usman Effendi

  1. Kesusastraan Lama (… - 1920)
  2. Kesusastraan Baru (1920 – 1945)
  3. Kesusatraan Modern (1945 - …)

 

Gabungan antara pendapat-pendapat tersebut terangkum dalam periodisasi yang relatif

lengkap sebagai berikut.

 

D.  Menulis

Menerapkan prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai untuk mengomentari karya sastra

Kritik adalah kecaman atau tanggapan yang disertai pertimbangan baik dan buruk terhadap suatu hasil karya dalam hal ini karya sastra. Kritik demikian biasa disebut kritik sastra. Agar dapat menyusun kritik dengan baik, seseorang harus memahami dan mendalami sastra dan teori sastra. Kedua hal tersebut dapat diraih dengan rajin membaca.

Sementara itu, esai (essay) adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi pengarangnya.

Kritik dan esai memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.  Kritik

a. bersifat menanggapi/mengomentari karya orang lain

b. menunjukkan kelebihan dan kekurangan

c. memberi saran perbaikan

d. bertujuan menjembatani pemahaman pembaca/apresiator/apresian dengan karya sastra bersangkutan

 

2. Esai

a. membahas suatu masalah secara sepintas sesuai pandangan atau pribadi pengarangnya

b. pengembangan gagasan secara bebas variatif sesuai keinginan pengarangnya

c. disajikan secara ringan dan santai

d. bertujuan membahas suatu masalah secara ringan tanpa harus sampai pada penyelesaian secara tuntas

 

Sementara itu, antara menulis kritik dan menulis esai sebenarnya tidak ada perbedaan yang berarti. Dalam mengkritik, usahakan memberi pendapat secara objektif dan seimbang (proporsional) dengan dasar-dasar yang logis dan berdasarkan teori sastra yang benar.

Adapun yang menjadi sasarannya adalah unsur-unsur pembentuk karya sastra yang dikritik, baik unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik, terutama yang dalam karya tersebut dipandang menonjol. Format sederhananya sebagai berikut.

  

Kunci dari keberhasilan menulis, termasuk menulis kritik dan esai adalah terus menerus mencoba dan berlatih

Contoh esai sastra

Pentingnya Sastra bagi Generasi Muda

Oleh Edy Firmansyah

 

Sejatinya sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama, proporsi, dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan kebudayaan. Apabila hal tersebut tercabut dari akar kehidupan manusia, menusia tidak lebih dari sekadar hewan berakal. Untuk itulah sastra harus ada dan selalu harus diberadakan.

Sayangnya, untuk kita, bangsa Indonesia, sastra dan kesenian nyatanya kian terpinggirkan dari kehidupan berbangsa. Padahal, kita adalah bangsa yang berbudaya. Dalam dunia pendidikan sastra dianggap hafalan belaka. Siswa mengenal novel-novel sastra seperti Sengsara Membawa Nikmat, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan sebagainya hanya karena mereka ”terpaksa” atau mungkin ”dipaksa” menghafal beberapa sinopsis dari beberapa karya yang benar-benar singkat yang ada dalam buku pelajaran, yang mereka khawatirkan muncul ketika ujian.

Akibatnya bagi siswa, sastra hanyalah aktivitas menghafal, mencatat, ujian, dan selesai. Metodenya hampir sama dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Sehingga, minat terhadap dunia sastra benar-benar tidak terlintas di benak kebanyakan generasi kita. Fenomena semacam itu semakin parah melanda generasi muda di daerah-daerah, terutama daerah pedalaman. Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri, itu juga melanda generasi muda di perkotaan.

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang-bincang dengan seorang guru bahasa Indonesia sebuah sekolah favorit di Pamekasan, Madura, di sebuah warung kopi sebelah rumah. Iseng-iseng, penulis bertanya tentang perkembangan sastra siswa-siswinya. Dan jawabannya sungguh mengejutkan, ”Yah, menurut saya, yang terpenting bagi mereka adalah mampu menjawab soal-soal UAN yang berkenaan dengan sastra. Sebab, malu rasanya jika nilai bahasa Indonesia jeblok.” Sangat ironis jawaban seperti itu.

Selang beberapa waktu kemudian, setelah pembicaraan saya dengan guru bahasa Indonesia itu, terjadi peristiwa yang mengejutkan di Pamekasan. Ada tawuran antarpelajar atau tepatnya tawuran antarkelas yang dilakukan oleh beberapa siswa dari sekolah terfavorit di Pamekasan. Namun, entah karena apa, peristiwa ini tidak diekspos oleh media massa, koran lokal sekalipun. Padahal, dalam tawuran itu dua orang siswa harus dirawat intensif di RSUD Pamekasan.

Tentu saja, terjadinya tawuran tersebut, kesalahan tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada siswa. Sekolah pun mestinya memiliki tanggung jawab penuh untuk merefleksi diri mengapa tawuran antarpelajar sering terjadi akhir-akhir ini. Sebab, ada kemungkinan kesalahan dalam mendidik dan memberikan metode pendidikan. Dan salah satunya jelas karena kurangnya pengayaan terhadap sastra.

Sastra adalah vitamin batin, kerja otak kanan yang membuat halus sikap hidup insani yang jika benar-benar dimatangkan, akan mampu menumbuhkan sikap yang lebih santun dan beradab.

Tentu akan lain ceritanya jika sekolah lebih mengembangkan sastra kepada siswa-siswinya. Ambil contoh kecil, misalnya pengembangan berpuisi. Selain keseimbangan olahjiwa, kepekaan terhadap lingkungan yang memiliki unsur-unsur keindahan, siswa akan semakin mengerti tentang hakikat dan nilai-nilai kemanusiaan. Jiwa kemanusiaan semakin tebal, maka jiwa-jiwa kekerasan yang ada dalam diri manusia akan tenggelam dengan sendirinya. Sebab, jarang sekali puisi dan kekerasan tampil dalam tubuh kalimat yang sama.

Terkait dengan itu, beberapa hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa ternyata berpuisi––sebagai salah satu bagian dari sastra––selain mampu memanajemen stress, yang notabene pemicu dari lahirnya tindak kekerasan, juga memberikan efek relaksasi serta mencegah penyakit jantung dan gangguan pernapasan (Hendrawan Nadesul, Kompas, 23/07/04).

Maka, tidak bisa lagi kita mengelak dengan mengatakan bahwa sastra hanyalah permainan kata-kata. Kata-kata yang dibolak-balik, diakrobatkan, diliuk-liukan di udara imajinasi agar terkesan wah, indah, dan bersahaja bagi siapa saja yang membacanya. Sebab, ternyata dari hasil penelitian di atas, sastra mampu menduduki posisi sebagai terapi alternatif terhadap beberapa penyakit.

Sehingga, menjadi wajar bahwa penulis di sini sangat menekankan untuk sekolah-sekolah terus-menerus memberikan waktu yang lebih banyak pada siswanya untuk melatih imajinasi melalui karya-karya sastra baik itu puisi, cerpen, teater, maupun drama. Sebab, selain untuk memupuk minat terhadap sastra dan mengembangkan imajinasinya sebagai penunjang pengetahuan yang lainnya, diharapkan juga nantinya mampu melahirkan para budayawan dan sastrawan terkenal sebagai pengganti ”pendekar” sastra pilih tanding yang tidak produktif lagi karena usia dan satu per satu telah meninggalkan kita. Sebut saja Hamid Jabbar, Mochtar Lubis, dan Pramudya Ananta Toer.

Caranya adalah sekolah harus membuka lowongan pekerjaan untuk seniman-seniman profesional yang cenderung urakan di mata masyarakat untuk menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai pengganti dari guru bahasa Indonesia lulusan universitas yang selalu terikat dengan kurikulum sehingga kebanyakan dari mereka tidak mampu mengembangkan minat sastra pada siswa-siswinya. Bisa juga dengan memberikan waktu khusus untuk para seniman, sastrawan muda berbakat untuk memberikan pelajaran sastra.

Nah, kalau tidak segera digagas mulai sekarang, kapan lagi kita akan mampu melestarikan kesastraan kita yang besar dan unik itu, serta siapa yang akan menggantikan generasi tua?

Edy Firmansyah www.cybersastra.net, 21 September 2004

(dengan pengubahan seperlunya)

 

Dikutip dari: Piawai Berbahasa Cakap Bersastra Indonesia 3 untuk SMA/MA Kelas XII (Program IPA dan IPS)

 

Perhatikan kritik singkat yang membahas cerpen "Setrum" karya Yusrizal K.W berikut!

Cerpen "Setrum":

Sebuah Potret Realitas Sosial

 

Dalam "Setrum" dengan apik disajikan perjalanan sebuah keyakinan tokoh bernama Cik Ledo. Yusrizal K.W., sang pengarang cerpen ini, mampu menampilkan sisi lain kehidupan masyarakat kita. Cerpen ini tidak lain sebuah potret buram yang dibingkai beribu persoalan yang kerap mendera. Pangkal potret buram ini berawal dari sebuah kata yang didengung-dengungkan oleh sang penguasa bernama: pembangunan. Atas nama pembangunan, semua yang ada di wilayah yang akan dibangun mau tak mau harus ikhlas untuk keluar dari tanah leluhurnya.

Di balik sebuah rencana pembangunan, ada salah satu manusia bernama Cik Ledo yang (dengan alasan cinta pada almarhum sang anak) tidak mau beranjak dari tempat tinggalnya. Hal ini merupakan potret dari sebagian masyarakat kita yang menghormati tanah leluhur sebagai tanah kelahiran sekaligus tanah kematian. Akan tetapi, atas alasan itulah cerpen ini membangun sebuah konflik menarik antara kepentingan penguasa dan keyakinan seorang rakyat.

Bagaimanapun, sastra adalah sastra. Namun, di balik sastra ada sebuah gambaran masyarakat. Cerpen karya Yurizal K.W. mampu merekam perilaku aparat yang ofensif terhadap rakyat. Lagi-lagi komunikasi dianggap biang keladi. Akan tetapi, apa daya seorang Cik Ledo akhirnya berada dalam pihak yang kalah. Tindakan anarkis, yaitu dengan menculik telah menjadi alasan klise penguasa untuk meredam "si pembangkang".

Intrik konflik yang dibangun dalam cerpen dengan "memburamkan" peristiwa penculikan terhadap Cik Ledo dan istrinya mampu membangun suasana keprihatinan atas nasib rakyat kecil. Seakan ada pertanyaan terselubung: apakah rakyat kecil dianggap tidak boleh mempunyai keinginan? Atau kalaupun rakyat kecil dianggap salah, haruskah dengan cara kekerasan untuk meredakannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin didramatisasi pada akhir cerpen dengan kematian Cik Ledo dan istrinya. Sebuah proses kematian yang sungguh indah. Dalam paragraf terakhir digambarkan: " ... Di tengah, ia tenggelam. Sampai pada dasar genangan air yang dalam dan luas itu, ia melihat suaminya, tengah membangun kembali rumahnya. Sementara Sarmi, tengah mainan ayunan yang talinya digantungkan ke bulan purnama". Kebahagiaan dan harapan bagi wong cilik mungkin hanya ditemui di alam sana.

Salah satu fungsi karya sastra selain hiburan, juga dapat memberi manfaat bagi pembacanya. Dalam cerpen "Setrum" ini, mungkin di antara sebagian pembaca ada yang melihat ke sekeliling nya dengan bersandar pada potret manusia seperti yang ada di cerpen ini.

Dikutip dari: Berbahasa Indonesia dengan Efektif untuk Kelas XII

Soal