Semester 2 BAB 1 PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MEREBUT IRIAN BARAT

BAB 1

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MEREBUT IRIAN BARAT

Standar Kompetensi:
6. Memahami usahamempertahankan Republik Indonesia
Kompetensi Dasar:
6.1 Mendeskripsikan perjuangan bangsa Indonesia merebut Irian Barat

Ringkasan Materi

A . Latar Belakang Terjadinya Perjuangan Mengembalikan Irian Barat
     Masalah Irian Barat adalah permasalahan yang palingmenggugah semangat nasionalisme rakyat Indonesia setelahmasa perang kemerdekaan Irian Barat, yang padawaktu itu berstatus sebagai karesidenan,merupakan simbol kesatuan dan integrasi bangsa.Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika pemerintah Indonesia berusaha dengan keras untuk merengkuh kembali Irian Barat yangmasih berada dalamcengkeraman Belanda.
    Dalam rangka perjuangan untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda, Indonesia tetapmengutamakan jalur diplomasi.Akan tetapi, pihak Belanda justru menunjukkan sikap yang kaku dan terkesan hanya mengulur-ngulur waktu. Sikap ini justru menimbulkan sikap radikal dan permusuhan dari para pemimpin dan rakyat Indonesia.
      Wilayah Irian Baratmenjadi bagian dari jajahan Belanda sejak tahun 1828. Pada bulan Juli 1949 Belanda menguasai kesultanan Tidore, termasuk Irian Barat sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya. Kemudian antara tanggal 23 Agustus - 2 November 1949, diselenggarakan KonferensiMeja Bundar (KMB) antara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan Belanda diDenHaag. Pada tanggal 27 November 1949 dicapai kesepakatan tentang penyerahan kedaulatan dari Belandakepada pemerintahRepublik Indonesia Serikat.Akhirnya,pada tanggal 27Desember 1949 dilaksanakan upacara penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia. Pada saat itu pula sistempemerintahan negara Indonesia berubah dari negara serikat menjadi negara kesatuan.
    Dalam KMB dinyatakan bahwa status Irian Barat akan diselesaikan satu tahun setelah tanggal penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat.
Hasil keputusan KMB dapat dikatakan sebagai puncak perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda. Namun, di satu sisi hasil-hasil KMB menimbulkan rasa tidak puas masyarakat sebabnya adalah adanya penundaan tentang penyelesaian Irian Barat. Belanda ternyata tidak mengindahkan hasil-hasil KMB. Karena sampai akhir tahun 1950 sebagai batas penyerahan Belanda atas Irian Barat kepada Indonesia tidak dilaksanakan oleh Belanda.
    Untuk mengatas imasalah Irian Barat, Indonesia menempuh berbagai cara. Cara-cara yang ditempuh Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam pangkuan RI adalah melalui:
1. Perjuangan diplomasi
2. Perjuangan konfrontasi politik dan ekonomi
3. Perjuanganmelalui Trikora

B . Perjuangan Diplomasi dalam Upaya Mengembalikan Irian Barat
Sebagai negara yang cinta damai, Indonesia ingin agar penyerahan Irian Barat dapat berjalan secara damai pula. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menggunakan jalan diplomasi.

Langkah yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia, antara lain:
1. Perundingan Langsung dengan Belanda
Sejak tahun 1950 Indonesia mengajak Belanda untuk mulai merundingkan masalah Irian Barat. Namun, ajakan itu dijawab oleh Belanda dengan memasukkan wilayah Irian
Barat ke dalam wilayah Belanda (provinsi seberang). Bahkan pada bulan Agustus 1953, Belanda memasukkan Irian Barat ke dalam South Pasifik Commission (SPC). SPC merupakan sebuah organisasi yang menggabungkan wilayah jajahan Australia, Selandia Baru, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat. Belanda juga membentuk Nicuw Guinea Road atau Dewan Papua. Dewan ini merupakan badan persiapan kemerdekaan Irian. Atas tindakan dan sikap Belanda ini, pemerintah Indonesiamengambil reaksi keras. Indonesia membatalkan Uni Indonesia - Belanda. Kebijakan itu kemudian diikuti pembatalan secara sepihak hasil
persetujuanKMB oleh Indonesia.
2. Diplomasi di Forum Internasional
        a. Melalui Konferensi Asia-Afrika
DalamKonferensi Asia - Afrika di Bandung (18 - 25 April 1955), pihak Indonesia mendapat dukungan negara-negara peserta konferensi gunamembebaskan Irian Barat. Dukungan ini diberikan dalam bentuk sebuah resolusi. Mereka meminta PBB agar membantu kedua belah pihak (Indonesia dan Belanda) untuk menyelesaikan permasalahan Irian Barat secara damai. Kemudian pada tanggal 29 September 1955, komite PBBmembahasmasalah penyelesaian Irian Barat.
        b. Melalui Diplomasi dalam Forum PBB
1) Berusaha memasukkan masalah Irian Barat agar menjadi agenda Sidang Dewan Keamanan PBB. Namun, usaha ini berhasil digagalkan Belanda. Belanda ketika itu menyatakan bahwa masalah Irian Barat bukan masalah Indonesia,melainkan masalah dekolonisasi Belanda yang akanmemerdekakan Irian Barat.
2) Pada tahun 1954, Indonesia mengajukan permasalahan Irian Barat kepada PBB. Permasalahan yang diajukan oleh Belanda ini dibahas pada sidang ke-11Majelis UmumPBB pada Komite Satu, sidang ini berlangsung dari tanggal 23November - 1 Desember 1954.
3) Pada tanggal 8 Oktober 1956, Indonesia kembali mengajukan usul penyelesaian Irian Barat kepada PBB, usulan ini mendapat dukungan dari 15 negara.
4) Pada bulan Agustus 1957, Indonesia yang didukung oleh 20 negara mengajukan usul penyelesaian masalah Irian Barat kepada PBB. Pada sidang ke-12 Majelis Umum PBB tahun 1957,masalah Irian Barat kembali dibicarakan, tetapi juga tidak membuahkan hasil. Selesai sidangMenteri Luar Negeri Indonesia dr. Subandrio menyatakan akan menempuh cara lain untukmenyelesaikan masalah ini.
5) Menyampaikan masalah Irian Barat di dalam sidang umum PBB melalui pidato Presiden Soekarno,berjudul “MembangunDuniaBaru” (ToBuildtheWorldANew). Dalam usaha pembebasan Irian Barat, langkah-langkah diplomasi yang ditempuh melalui jalur yang panjang dari satu kabinet ke kabinet yang lain:
a. Pada masa kabinet Natsir
b. Pada masa kabinet Sukiman
c. Pada masa kabinet Wilopo
d. Padamasa kabinet Ali Sastroamijoyo I
e. Pada masa kabinet Burhanuddin Harapan
f. Padamasa kabinetAli Sastroamijoyo II

C . Perjuangan dengan Konfrontasi Polit ik dan Ekonomi dalam Upaya
Mengembalikan Irian Barat
Cara diplomasi telah banyak diusahakan oleh Indonesia untuk menyelesaikan masalah
Irian Barat. Namun, cara tersebut belum juga memperoleh hasil yang memuaskan. Langkah
selanjutnya yang diambil Indonesia adalah dengan cara konfrontasi di bidang politik dan
ekonomi.

1. Pembubaran Uni Indonesia-Belanda Secara Sepihak
Langkah yang diambil kabinet Ali II bersama pemerintah Indonesia sebagai tindak lanjut perjuangan pembebasan Irian Barat adalah pembatalan Uni Indonesia - Belanda. Kebijakan itu kemudian diikuti dengan pembatalan perjanjian KMB yang dilakukan pada tanggal 3 Mei 1956. Pembatalan ini dilakukan secara sepihak oleh Indonesia melalui UU No. 13 Tahun 1956. Sementara itu Belanda masih ingin menguasai Irian Barat dan tidak maumenyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.


2. Pembentukan Provinsi Irian Barat
Pembentukan Provinsi Irian Barat dengan ibukota Soa Siu merupakan realisasi dari program kabinet Ali II. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1956 dengan gubernur pertama Zaenal Abidin Syah, Sultan Tidore, yang dilantik pada tanggal 23 September 1956. Provinsi iniwilayahnyameliputi: Irian, Tidore,Oba,Weda, Patani danWasile.


3. Penyelenggaraan Rapat Umum Pembebasan Irian Barat
Rapat tersebut diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 18 November 1957. Rapat tersebut ditindaklanjuti dengan:
a. Pemogokan total yang dilakukan oleh para buruh yang bekerja di perusahaan Belanda pada tanggal 2 Desember 1957.
b. Pelanggaran beredarnya semuamedia dan filmyangmenggunakan bahasa Belanda.
c. Pelanggaran pesawat-pesawat milik KLM Belanda mendarat dan terbang di atas wilayah Indonesia.
d. Penutupan kegiatan konsuler Belanda di Indonesia.


4. Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia
Suasana anti Belanda kemudian berkembang dengan pengambilalihan semua perusahaan Belanda di Indonesia. Pengambilalihan ini mula-mula dilakukan oleh buruh yang bekerja di perusahaan tersebut, kemudian diambilalih pemerintah dengan Peraturan PemerintahNomor 23 Tahun 1958. Dengan demikian, perusahaan Belanda dinyatakan menjadi milik negara Republik Indonesia.
Perusahaan-perusahaan Belanda yang diambilalih, antara lain:
a. PercetakanDe Unie
b. Perusahaan Listrik Philips
c. KLM
d. Nederlandsche HandelMaatschappij. NV. yang kemudian namanya diubah menjadi Bank Dagang Negara
e. Bank Escompto
f. PabrikUnilever
g. Beberapa perusahaan pertambangan dan perkebunan

 

D. Pelaksanaan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) Untuk Merebut Irian Barat
     1. Persiapan Merebut Kembali Irian Barat
Sebelum mencetuskan Trikora, Indonesia melakukan beberapa persiapan di antaranya, yaitu:


    a. Pembelian Senjata
Pembelian senjata di luar negeri ini dimaksudkan untukmeningkatkan di bidang pertahanan. Pembelian senjata dilakukan ke negara-negara Barat terutama Amerika Serikat. Namun, usaha ini gagal. Indonesia lalumengambil keputusan untukmembeli senjata dariUni Soviet.


    b. Berkunjung ke Beberapa Negara di Dunia
Pemerintah Indonesia mengutus menteri keamanan nasional untuk berkunjung ke beberapa negara di dunia. Negara yang dikunjungi antara lain India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Inggris, Jerman, dan Perancis

    c. Pembentukan Pemerintahan
Pemerintah Republik Indonesiamembentuk provinsi Irian Barat dengan ibukota Soa Siu. Provinsi ini, kemudian ibukotanya dipindahkan keKotabaru (Jayapura) dengan gubernurnya seorang putera Irian.


    d. Pemutusan Hubungan Diplomatik
Dalam rangka pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda, pemerintah pada tanggal 10 Februari 1958 membentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-15, tanggal 17 Agustus 1960, presiden memaklumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.

 

        2. Perjuangan Melalui Trikora
a. Persiapan Konfrontasi Militer
Pada tanggal 24 November 1961 Majelis Umum PBB mengadakan pemungutan suara terhadap usulan Belanda dan Indonesia terhadap penyelesaian masalah Irian Barat. Kedua usulan tersebut sama-sama ditolak oleh PBB. Sejak saat itu Belanda sudah tidak membicarakan lagi rencana Luns pada sidangMajelis Umum PBB. Pada sidang Majelis Umum PBB di atas, Belanda juga menuduh Indonesia telah melakukan agresi ke Irian Barat.Menanggapi pernyataan Belanda tersebut, Indonesia segera mengambil langkah-langkah, yaitu:
1) Pada tanggal 11 Desember 1961 membentuk Dewan Pertahanan Nasional (Depertan).
2) Pada sidang Depertan tanggal 14 Desember 1961 diputuskan untuk membentuk Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat.
3) Depertanmerumuskan TriKomando Rakyat (Trikora).
4) Pada sidang Depertan tanggal 31 Desember 1961 dibentuk Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat dan Pembentukan Provinsi Irian Barat Gaya Baru.


b. Latar Belakang Terjadinya Konfrontasi Militer (Trikora)
Belanda tidak ingin menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.Merekamemancing bangsa Indonesia untuk melakukan kontak senjata. Hal ini tampak dari tindakan Belanda sebagai berikut:
1) Mempersiapkan berdirinya “Negara Papua” di Irian Barat.
2) Mengirimkan kapal induk “Karel Doorman” di perairan Irian Barat.
3) Memperkuat angkatan darat dan udara di Irian Barat.


Pada tanggal 10 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan Trikora di Yogyakarta yang isinya:
1) Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2) Kibarkan SangMerah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia.
3) Bersiaplah untukmobilisasiumummempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan negara.


         3. Pembentukan Komando Mandala dan Rencana Operasi Militer
a. Pembentukan Komando Mandala
Untuk mempertegas langkah konfrontasi antara Indonesia dengan Belanda dalam perebutan Irian Barat,maka pemerintah RImenindak lanjuti dengan:
1) Pembentukan provinsi Irian Barat gaya baru dan mengangkat putera asli Irian Barat sebagai gubernur.
2) Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan Nomor 1 Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.

Keputusan ini dikeluarkan pada tanggal 2 Januari 1962. Adapun susunan Komando Mandala pembebasan Irian Barat sebagai berikut:
a) Panglima besar komando tertinggi : Presiden Ir. Soekarno
b) Wakil panglima besar : JenderalA.H. Nasution
c) Kepala staf komando : Mayor JenderalAhmad Yani
d) Panglima mandala : Mayor Jenderal Suharto
e) Wakil panglima I : Kolonel Laut Subono

f) Wakil panglima II : KolonelUdara LeoWatimena
g) Kepala stafumum : KolonelAhmad Thahir


Markas besar komandoMandala pembebasan Irian Barat ditetapkan diMakassar. Adapun tugas komando Mandala adalah:
a) Merencanakan,mempersiapkan, danmenyelenggarakan operasimiliter guna mengembalikanwilayah Irian Barat ke dalamkekuasaan RI.
b) Mengembalikan situasi militer di Irian Barat sesuai dengan taraf-taraf perjuangan di bidang diplomasi dan dalamwaktu yang singkatmenciptakan daerah de facto RI.

b. Rencana Operasi Militer
Komando Mandala dalam rangka membebaskan Irian Barat merencanakan tiga tahap atau langkah, yaitu:
1) Fase Infiltrasi (dilaksanakan sampai akhir tahun 1962) Yaitu dengan sasaran mengadakan penyusupan ke wilayah Irian Barat untuk menciptakan daerah de facto.
2) Fase Eksploitasi (dimulai awal tahun 1963) Yaitu denganmengadakan serangan terbuka gunamenguasai pos-pos pertahanan musuh yang penting. Serangan terbuka ini dilakukan dengan operasi Jayawijaya.
3) Fase Konsolidasi (dilakukan pada tahun 1964) Yaitu denganmengadakan kekuasaan RI secara mutlak di Irian Barat. Pada bulan Maret sampai Agustus 1962,

komando Mandala melakukan serangkaian operasi pendaratan di Irian Barat.
1) Pada tanggal 18 dan 20 Maret 1962 TNI mendaratkan 4 peleton sukarelawan di Pulau Gag, Waigeo, dan Sansaspor.
2) Pada tanggal 25Maret 1962 pesawat tempur Indonesiamenyerang kapal Belanda.
3) Pada tanggal 24 April 1962 melakukan serangkaian operasi.
   a) Operasi Banteng Keraton:menerjunkan TimGarudaMerah di sekitar Fakfak dan Garuda Putih di sekitar Kaimana.
   b) Operasi Serigalamendaratkan pasukannya di sekitar Sorong danTeminabuan.
   c) Operasi Naga, mendaratkan pasukannya dengan sasaranMerauke.
   d) Operasi Jatayu,menerjunkan pasukan Elang, Gagak, dan Alap-alap dengan sasaran Sorong, Kaimana, danMerauke.
4) Pada tanggal 7, 9, dan 12 Agustus 1962 Detasemen Pelopor 1232 Brimob dan pasukan Raidersmendarat di PulauMisool.
5) Pada tanggal 14Agustus 1962merencanakan akanmelakukanOperasi Jayawijaya. Operasi ini batal karena antara Indonesia dan Belanda tercapai persetujuan tentang
Irian Barat pada tanggal 15 Agustus 1962. Perintah penghentian tembak menembak,terjadi pada tanggal 18 Agustus 1962. Dalam operasi pembebasan Irian Barat, terdapat seorang sukarelawan bernama Herlina yang karena keberaniannya dianugerahi Pending Emas oleh Presiden Soekarno, sehingga kemudian ia mendapat julukan “Si Pending Emas”.

     4. Pertempuran Laut Aru
Tidak lama setelah komandomandala dibentuk, pada tanggal 15 Januari 1962 terjadi pertempuran Laut Aru, yaitu suatu pertempuran di Laut Aru dekat perairan Irian Barat antara kapal-kapal ALRI melawan kapal perang Belanda. Pada saat itu tiga buah kapal ALRI, yaitu Macan Tutul, Harimau, danMacan Kumbang sedang berpatroli di Laut Aru. Tiba-tibamereka diserang oleh kapal-kapal perusak Belanda. Akhirnya pertempuran pun tak terelakkan. Dalam pertempuran yang tak seimbang itu, kapal RIMacan Tutul beserta pasukannya terbakar dan tenggelam. Komodor Yos Sudarso (Deputy KSAL) dan Kapten Wiratno gugur bersama tenggelamnya kapalMacan Tutul. Dalampertempuran itu gugur pula putra-putra bangsa dari ALRI, yaitu: Mayor Memet Sastrawirya, Kapten Bambang Susilo, Lettu. Ciptadi, dan Lettu. Suparno. Keseluruhannya berjumlah 27 orang.

E . Persetujuan New York dan Pengaruhnya terhadap Penyelesaian Masalah Irian Barat
      1. Rencana Bunker (Bunker Plan)
Kesungguhan Indonesia dalamusaha membebaskan Irian Barat ternyata dilihat oleh pihak Amerika Serikat. Pada tanggal 11Maret 1962Amerika Serikatmeminta kepada Sekjen PBB, UThant untukmenunjuk diplomatAmerika Serikat Ellsworth Bunker agar bertindak sebagaimediator (penengah) dalamupayamencari penyelesaianmasalah Irian Barat antara Indonesia dan Belanda.
Pada tanggal 2 April 1962, Bunkermengajukan usul tentang penyelesaian Irian Barat, dan dikenal sebagai Rencana Bunker (Bunker Plan).
Isi Rencana Bunker adalah sebagai berikut:
a. Pemerintahan Irian Barat harus diserahkan kepada RI.
b. Sesudah sekian tahun di bawah pemerintahanRI, rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk menentukan pendapatnya untuk tetap dalam Republik Indonesia atau memisahkan diri.
c. Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesiamelalui badan pemerintahan PBB UNTEA(UnitedNations Temporary ExecutiveAuthority).

       2. Persetujuan New York
Indonesia dan Belanda akhirnya mencapai kesepakatan tentang masalah Irian Barat yang dituangkan dalamNewYorkAgreement atau PersetujuanNewYork. Persetujuan ini ditandatangani pada tanggal 15Agustus 1962. Indonesia diwakili olehMenluDr. Subandrio, dan Belanda oleh J.H. Van Roijen dan C. Schurman. Isi persetujuan NewYork:
a. Penghentian permusuhan.
b. Selambat-lambatnya tanggal 1Oktober 1962 Belandamenyerahkan Irian Barat kepada UNTEA.
c. UNTEA akanmemakai tenaga-tenaga Indonesia baik sipilmaupunmiliter.
d. Pasukan Indonesia tetap tinggal di Irian Barat yang berstatus di bawah UNTEA.
e. Pada tanggal 1 Oktober 1962 bendera PBB akan berkibar di Irian Barat berdampingan dengan bendera Belanda.
f. Pada tanggal 31 Desember 1962, bendera Belanda akan diturunkan, diganti dengan bendera Indonesiamendampingi bendera PBB.
g. Angkatan perang Belanda dan pegawai sipilnya berangsur-angsur dipulangkan dan harus selesai paling lambat tanggal 1 Mei 1963.
h. Antara Irian Barat dan daerah Indonesia lainnya berlaku lalu lintas bebas.
i. Pemerintah UNTEA berakhir pada tanggal 1 Mei 1963. Pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Indonesia.
j. Pada tahun 1969 rakyat Irian Barat diberi kesempatan untukmenyatakan pendapatnya, tetap dalamRepublik Indonesia ataumemisahkan diri dari Republik Indonesia.
d. Pelaksanaan penyerahan Irian Barat akan selesai dalam waktu 2 (dua) tahun.

        3. Pengaruh Persetujuan New York
Berdasarkan persetujuan New York, terhitung mulai 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan pemerintahan atas Irian Barat kepada UNTEA. Sesuai dengan Persetujuan NewYork, pemerintahan UNTEA di Irian Barat berlangsung dua tahap.
a. Tahap I , pada tahap ini, pejabat Belanda digantikan dengan pejabat-pejabat bukan Belanda atau Indonesia.UNTEAdiwajibkanmemberikan informasi kepada penduduk Irian Barat tentang peralihan pemerintahan ke Indonesia.
b. Tahap II, pada tahap ini, UNTEA akanmelakukan peralihan pemerintahan ke Indonesia. Semua aparat keamanan UNTEA akan digantikan oleh aparat keamanan Indonesia. Pada tanggal 7 September 1962 PBB menunjuk Jose Rolz Barnet untukmelaksanakan tugas sekjen PBB sebagai kepala pemerintahan sementara di Irian Barat. Pada tanggal 24 Oktober 1962, Jose Rolz Barnet mengumumkan penunjukan Dr. Djalal Abdoel dari Iran sebagai kepala pemerintahan sementara UNTEA di Irian Barat. Peristiwa-peristiwa penting menjelang penyerahan pemerintahan dari UNTEA kepada pemerintahan RI:

a. Pada tanggal 24 Desember 1962 pesawat Garuda mengambil alih seluruh pelayanan penerbangan di wilayah Irian Barat.
b. Pada tanggal 30 Desember 1962 Mayjen Ahmad Yani tiba di Holandia/Kotabaru (sekarang Jayapura) untukmelakukan kunjungan selama 3 hari.
c. Pada tanggal 31 Desember 1962 bendera Indonesia dikibarkan di Irian Barat berdampingan dengan bendera PBB.
d. Pada tanggal 31Maret 1963 Indonesiamengadakan pemulihan hubungan diplomatik dengan Belanda.
e. Pada tanggal 1 Mei 1963 UNTEA menyerahkan pemerintahan sepenuhnya kepada Indonesia. Pada saat itu juga bendera PBB diturunkan, sehingga tinggallah bendera Merah Putih.
f. Pada tanggal 2 Mei 1963 Presiden Soekarno mengunjungi Holandia (Kotabaru) dan mengganti nama Holandiamenjadi Soekarnoputra.
g. Pada tanggal 4 Mei 1963 Presiden Soekarno melantik putra daerah Irian Barat Elizer Bonay, sebagai gubernur pertama Irian Barat.

F. Arti Pentingnya Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)
Pepera merupakan salah satu dari isi Perjanjian New York 1962 mengenai penyerahan kekuasaan pemerintahan atas Irian Barat oleh Belanda kepada Indonesia. Pepera diselenggarakan dalam3 tahap:
1. Tahap pertama, dimulai tanggal 24 Maret 1969, yaitu dengan mengadakan konsultasi dengan dewan-dewan kabupaten di Jayapuramengenai tata cara penyelenggaraan Pepera.
2. Tahap kedua, berupa pemilihan anggota dewanmusyawarah Pepera, yang berakhir pada bulan Juni 1969.
3. Tahap ketiga, adalah pelaksanaan Pepera, dimulai tanggal 14 Juli 1969 di Merauke, dan berakhir pada tanggal 4 Agustus 1969 di Jayapura.


Akhirnya, antara tanggal 14 Juli - 2Agustus 1969, Pepera dilaksanakan di beberapa tempat di Irian Barat dengan hasil sebagai berikut:
1. Pada tanggal 14 Juli 1969 dilaksanakan Pepera di Merauke. Hasilnya Majelis Merauke memilih bergabung dengan Indonesia.
2. Pada tanggal 17 Juli 1969Majelis Wamena memilih bergabung dengan Indonesia.
3. Pada tanggal 19 Juli 1969Majelis Nabirememilih bergabung dengan Indonesia.
4. Pada tanggal 23 Juli 1969Majelis Fakfakmemilih bergabung dengan Indonesia.
5. Pada tanggal 26 Juli 1969Majelis Sorongmemilih bergabung dengan Indonesia.
6. Pada tanggal 29 Juli 1969MajelisManokwarimemilih bergabung dengan Indonesia.
7. Pada tanggal 31 Juli 1969Majelis Biakmemilih bergabung dengan Indonesia.
8. Pada tanggal 2 Agustus 1969Majelis Jayapura memilih bergabung dengan Indonesia.
Pelaksanaan Pepera disaksikan oleh utusan sekjen PBB duta besar Ortis Sanz. Selanjutnya oleh Ortis Sanz hasil Pepera dilaporkan pada sidang umum PBB ke-24 pada bulan November 1969. Pada tanggal 19 November 1989, sidang umum PBB menerima hasil Pepera yang telah dilaksanakan sesuai dengan apa yang ada dalam Perjanjian New York.
Dalam Pepera yang dilangsungkan pada tanggal 14 Juli 1969 sampai dengan 4 Agustus 1969, disimpulkan bahwa rakyat Irian Baratmemilih bergabung dengan pemerintahRI.Dengan demikian, sempurnalah upaya pengembalian Irian Barat ke pangkuan wilayah RI yang sejak tahun 1950 terus diprogramkan. Hasil Pepera tersebutmemperlihatkan suara bulat masyarakat Irian Barat untuk tetap dalam bagian dari Republik Indonesia. Dengan demikian, Irian Baratmenjadi provinsi RI yang ke-26 dengan nama provinsi Irian Jaya. Pada tanggal 1 Januari 2000 nama Irian Jaya diganti menjadi provinsi Papua.

Usaha yang dilakukan pemerintahRI untukmemajukan kesejahteraan rakyat Irian Barat adalah:
1. Dalambidang pendidikan denganmengirimkan tenaga guru.
2. Dalam bidang sosial dengan menyelenggarakan Operasi Susana.
3. MendirikanUniversitas Cenderawasih di Jayapura.
4. Membangun industri pertambanganminyak dan bumi.

Soal